Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

38 Puisi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia #1

38 Puisi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia #1

Source: kozio.com

 

Puisi Pahlawan Terbaik

Mengenang

oleh Yuliani Megantari

Muak jadi budak
Mereka maju dengan penuh yakin
Menentang benteng besi bersama
Sembilan Obor, telah menancap di sudut- sudut bumi
Bumi yang telah basah
Ketika mereka bergegas
Di pintu pagi yang cemas
Aku hanya dapat menanti kabar dari langit dan bumi

Dentang jam berbunyi detik demi detik
Waktu kian berlalu bagai air mengalir
Sekawanan burung gagak membawa kabar
Mereka telah pergi

Kembali pada cahaya, yang menjadi air
Mengalir pada muara yang tak pernah berbatas
Kembali pada api, tanah pijakan ibu pertiwi
Terbang ke atas langit tak berlapis
Yang menyatu bersama udara
Merongga dalam kekekalan

Bumi telah mencatat nama mereka
Pada sebuah puisi yang kurangkai ini
Dan terkenang menjadi dongeng anak negeri

***

Kebencian Mendalam

Kisah tentang para pejuang yang mati
Kisah para pejuang yang melawan
Membekas di dalam hati
Membangkitkan semangat juang

Cinta pada negeri
Itulah landasannya
Kau sebagai pahlawan yang terbuang
Di negeri ini aku menyapamu

Kau terbuang di pengasingan
Seorang pejuang yang terasingkan
Dalam derunya kemerdekaan
Saudaraku

Aku menyapa penuh cinta
Aku menyapamu penuh dekapan
Aku menyapamu penuh semangat
Semangat juang yang tak pernah usai

***

Pemuda Pahlawan

Karya : Riky Fernandes

Gelagat keharuan tercium bagai bangkai kecoa yang mulai hancur
Waktumu tidak banyak di atas fana
Rapatkan jari-jemarimu agar sampai menuju menara
Bulatkan tekadmu untuk melawan arus kebencian setiap manusia-manusia itu
Kukuhkan dua kakimu sampai ke kepala
Tarik tali pelontar kain merah putihmu
Usah kau sujud di atas tanah itu
Tancapkan saja tiang semangatmu setinggi mungkin
Senyummu kian memanis dengan topi jerami berwarna gelap
Dan saat itulah kau akan tahu betapa sulitnya hidup
Dengan hias keringat tanpa peduli hari telah mencapai senja

***

Memori Perang

Para serdadau di garis terdepan
Membawa bambu runcing
Berlari menerjang peluru
Mencoba merebut harapan

Ketika perang mulai berdendang
Alunan langkah para pejuang
Ledakan pun menjadi biasa
Demi kemerdekaan bangsa dan negara

Sepenggal kisah dan memori
Kisah-kisah perjuangan tak ada ampun
Kisah-kisah heroik tiada naas
Patriot yang harus didengar

Lisan-lisan kini menjadi veteran
Terbakarlah sudah semangat juangmu
Legenda-legenda yang bukan mitos
Ketika penjajah menginjak-injak

***

Diponegoro

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

  Puisi Malam

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU
Bagimu negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas.

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

karya: chairil anwar

***

Percik-percik Sumpah Pemuda

Puisi karya Dearest Tiantama

gema ikrar itu
hampir satu abadlalu
membahana di persadaku
mampu menyatukan tekat dan hastrat
bersatu padu bangsaku

begitu banyak pilihan kini
yang bisa membuat indah warna negeri ini

kami ingin
kami mau
jemari kecil ini
kepal tangan ini
langkah kaki ini
untuk mengisi perubahan negeri ini
bukan dengan permusuhan
bukan dengan kegaduhan
bukan dengan baku hantam
tetapi dengan…
cita cita suci
dengan doa dan usaha
agar negriku jambrut katulistiwa
tetap berkilau,tetapkukuh dan teguh
hai kamu
kaum muda bangsaku
ayo singsingkan lengan baju
tuk bawa bangsa ini
luhur dan mulia sejahtera
jalayah negriku
INDONESIA>>>>>

***

Matamu Tajam

Kedua matamu tetap fokus satu tujuan
Ke arah musuhmu
Entah kepala atau dada
Kesigapanmu mengarahkan pistolmu

Namun, granat-granat telah menghampiri
Tepat di depan matamu
Kau terguncang dengan hebat
Kau tercabik dan berlumurah darah

Wajahmu hampir tak diketahui
Di saat-saat terakhir kau berkata,
“merdeka!”
Pilu dalam masa perang

Kegigihanmu bercampur darah
Peluru mendesing di telingamu
Jiwa-jiwa terhentak lemah
Keteganganpun terjadi

***

Dongeng Perjuangan

Aku tidak melihat akan keadaan
Aku tak mendengar akan amarah
Bahkan tangisan seolah sebuah dongeng
Cerita dari kakek yang pilu

Perlahan wajah keriput itupun tersenyum
Membelai lembut kepalaku sambil bercerita
Dua manusia berbeda latar belakang
Yang tidak sederajat dan hanya terikat tali kebebasan

Sebuah harapan yang berawal dari impian
Hingga berakhir menjadi kenyataan
Pahlawan yang terlahir dari perjuangan
Pahlawan terpisahkan oleh sebutir peluru

Takkan ada kekecewaan pahlawanku
Takkan ada yang perlu disesali
Kau akan merasakan sejuknya angin kebebasan
Dan aku hanya bisa beristirahat di sini

***

Puisi Pahlawan yang Menginspirasi

puisi pahlawan

Lagu dari Pasukan Terakhir

Pada tapal terakhir sampai ke Jogja
bimbang telah datang pada nyala
langit telah tergantung suram
kata-kata berantukan pada arti sendiri

Bimbang telah datang pada nyala
dan cinta tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati atau tiada mati-matinya

O Jenderal, bapa, bapa,
tiadakan engkau hendak berkata untuk kesekian kali
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya kanan tetap tinggal pada tidak-sempurna
dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
akan hilang ditiup angin, karena
ia berdiam di pasir kering

O Jenderal, kami yang kini akan mati
tiada lagi dapat melihat kelabu
laut renangan Indonesia.

O Jenderal, kami yang kini akan jadi
tanah, pasir, batu dan air
kami cinta kepada bumi ini

Ah, mengapa pada hari-hari sekarang, matahari
sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi

Jenderal, mari Jenderal
mari jalan di muka
mari kita hilangkan sengketa ucapan
dan dendam kehendak pada cacat-keyakinan
engkau bersama kami, engkau bersama kami

Mari kita tinggalkan ibu kita
mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
mari Jenderal mari
sekali ini derajat orang pencari dalam bahaya
mari Jenderal mari Jenderal mari, mari…

karya: asrul sani

***

Posting Komentar untuk "38 Puisi Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia #1"