Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

58 Puisi Pendek Tentang Kehidupan, Alam, Cinta, Persahabatan Dan Kehidupan #1

58 Puisi Pendek Tentang Kehidupan, Alam, Cinta, Persahabatan Dan Kehidupan #1

Source : woazy.com


Puisi Pendek Tantang Cinta

Sontak
Setiap hendak menulis sajak
sketsa wajahmu itu selalu saja merebak
udara menjadi sesak penaku henti mendadak
serangkaian kosakata di benakku pun luluh-lantak
setiap itu pula aku tak tahu harus apa selain menunda dan menyaksikan tiap imaji yang tersisa
malihrupa jadi jelaga.

Ilham P. S.

***

Menyerah
maaf, aku harus menyerah
telah lama kucoba untuk bertahan namun aku semakin terluka

maaf, aku harus menyerah
kuat inginku untuk bertahan namun hati tak bisa lagi menerima

maaf, aku harus menyerah
luka ini sudah terlalu dalam hingga membuat hatiku pecah bergelimang darah

maaf, aku harus menyerah
menghentikan langkah menutup semua lembar kisah mimpi indah sepasang anak manusia
yang bercerita tentang cinta

maaf, aku menyerah….

***

Doaku Untukmu
Selalu tersebut namamu,
Diantara 7 titik kerendahan diri,
Diatas lembar permadani,
Berangkat semoga sampai langit untuk kembali turun kebumi sebagai karunia.

***

Sepi
Tersebab,
Tak mungkin bisa bersama,
Maka aku selalu menuliskan syair hati,
Dimana kehidupan dunia bisa diatur sesuai mauku,
Lantas kau dan aku menjadi kita…

Hanya bisa memanggil ingatan untuk mengusir kesunyian,
Tapi ia datang tak pernah sendirian,
Selalu beserta kerinduan.

Terbayang suatu hari tangan kita terkait,
Terlelap bersama dibawah saku langit.

Sepi ini slalu menghantarkanku padamu

***

baca juga:

puisi cinta romantis yang paling manis

Ini Tentangmu
Katamu kau tak pandai berkata-kata,
namun kata-katamu mampu membuatku terbata-bata…

Bagimu kau tak terlalu suka mengungkap rasa,
namun yang kau isyaratkan membuatku tak mungkin lupa…

Menurutmu apa yang kau perbuat bukanlah apa-apa,
namun tanpa kau sadari,
bagiku kau begitu istimewa…

Demikian tentangmu,
dan sungguh! aku bukan sedang memujimu…

***

Jejak Dalam Udara
Dan lihatlah,

Sekumpulan burung-burung melintas dikotaku
Dilangit senja yang perlahan pekat
ditelan malam Beriringan

mereka terbang pergi dan berlalu
Sedang aku, Menyesap rindu dijejak-jejak yang semakin hilang

Kuingin kau mencintai aku seperti udara,
Meski kasat tapi kau hirup selamanya…

***

Rasa
Lantas, biarlah sementara begini
Tepatnya kan kubiarkan seperti ini
Mungkin hati ini perlu waktu tuk menghapusnya
Karena sesungguhnya aku telah terbiasa oleh keberadaanmu

Dan sesungguhnya ada rindu yang mulai tertata Karenamupun,
kini aku benar-benar tak sanggup mengelabui rasa

***

Isyarat Yang Entah
Pada undakan anak tangga kelima
Seorang perindu duduk menatap awan senja
Ia tabah menunggu isyarat yang entah

Tapi kau salah puan…

Jika menganggapku setabah itu
Justru karena tak sanggup menahan rindu
Aku senantiasa mencurahkannya pada aksaraku
Dan sementara di keningnya
Waktu terus melukis kerut perlahan…

***

Aku dan Hujan
Jalan itu menghitam,
basah oleh hujan.

Namun aku, muram, Kering oleh kerinduan.

Gerimis ini menghapus jejak apapun,
Namun kasihmu tak hilang dalam hitungan tahun.

***

Lebih dari hancur
Seperti pisau tajam yang menusuk hati
tak pernah bisa dilepas lagi
menusuk sampai nurani
tempat aku bingkai indah namamu

Aku hanyalah serpihan puing yang rapuh
ingin aku ceritakan kehancuran ini
tapi, kau seolah tak peduli
tak mampu kusatukan lagi kepingan hati

***

Puisi Pendek Tantang Kehidupan
puisi pendek tentang kehidupan

Televisi
Sejak tabung sinar katoda
sihir telah bersentuhan dengan dunia
sinarnya merusakmu, tentu saja
turut mengubah perilakumu

Kini kau menyentuhnya
menggesernya ke kanan dan kiri
seolah kalian berinteraksi,
padahal hanya kau yang terpedaya sinar dan sihirnya

***

Sudut Pandang
Kita lahir dari rahim yang sama
Membuka mata di saat berbeda
Aku menolongnya kau mencacinya
Tapi kau yang jeli dan aku tertipu belaka

Ini hanya masalah sudut pandang
Menganggap kaya berlebihan atau miskin keterlaluan
Mata rahim melihat itu semua seimbang
Kita semua lahir dari rahim yang sama, rahim keadilan

***

Sebutir Debu
Aku hanya sebutir debu
yang memburamkan kilau
tak pantas berada diatas suci
tak bisa menghindar
saat angin hembuskan aku untukmu,
lalu terbang

Aq hanya kecewa bagai hampa mengharap udara,
atau debu ditengah gersang mengharap hujan
hentikan angin membawaku terbang

Oleh: Florizty Anshori, 13 Februari 2014

***

Kesabaran
Gubung bambu istana baginya,
Perut yang selalu bernyanyi dalam hidupnya,
Walau pahit telan untuk manis,
Bersyukur kunci agar tak menangis,

Melangkah kaki ini hingga membentuk garis pecahan,
Duri-duri selalu menghadang raga,
Wajah menahan kesakitan,
Menyebut namaNya dalam jiwa,

Hati berkata : “ lahaulawalquwata illabillahil alihiladzim,”

***

Dalam Bis
langit di kaca jendela
bergoyang terarah
ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada…

Karya : Sapardi

58 Puisi Pendek Tentang Kehidupan, Alam, Cinta, Persahabatan Dan Kehidupan #2

Source : woazy.com


***

Dunia Kini
Minggu pagi pun merebak,,,
Bagai daun kering berguguran,,
Tak henti-henti berguguran,,,
Saat semuanya terlena,,,
Semuanya berubah,,
Sekelompok manusia berencana yang merubah,,,
Yang salah jadi seperti biasa,,
Yang aneh jadi seperti wajar,,
Hati-hatilah sayang,,
Itulah dunia kini.

***

Judulku
Hingga sore ini aku tak tahu judulnya,,
Judul dalam hidup ini,,
Apakah aku seorang yang hebat,,
Ataukah seorang yang biasa saja,,
Atau bahkan seorang pecundang,,
Sungguh membuatku khawatir,,
Lalu bagaimana,,
Apa aku harus merantau,,
Tapi demi apa? Semoga aku segera menemukan jati diriku,,

amin

***

Kisah Perjuanganku
Sejak awal kumemulai mengenal dunia
Sejak itu juga kumemulai memahami arti hidup
Banyak kisah yang telah aku lewati
Demi mengejar impian

Semua kisah itu tak dapat ku lupakan dari memoryku
Tentang perjuangan kehidupanku untuk meraih impianku
Walau bayak rintangan yang harus di hadapi
Namun bukan itu yang membuatku harus menyerah

Karna kehidupan ini butuh kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa
Maka itu tak ada kata menyerah sebelum mencapai impian yang penuh harapan.

***

Puisi Pendek Tantang Lingkungan
puisi pendek tentang lingkungan

Anak Nakalku
kemana saja kamu hingga kotor mukamu,,
kesayanganku dengan muka yang kotor,,
aku mencarimu sampai ikut kotor,,
dan mencuci semua bajumu,,
aku menemukan permen karet di sepatumu,,
aku tahu itu permen karetmu,,
dan aku tahu kamu bermain di tempat sampah,,
aduuh,,
pusing rasanya,,
melihatmu,,
namun aku tak sanggup tidur tanpamu,,
anakku,,
dan kesayanganku,,

***

Koran Peradaban
Angin menghela nafasnya,
Seolah beban membawa cuaca,
Pucuk pepohonan menari tarian gila,
Mabuk oleh air haram manusia.
Bumi malas menjaga anak-anak,
Lempeng-lempeng kerak yang selalu berjingkrak,

Manusia kian lihai berdusta,
Lengkap dengan topeng-topeng baja,
Hati bersembunyi entah dimana,
Haha… mungkin takut pada tuannya.

Tiada arah jalan untuk perbaikan,
Segalanya berubah liar dan berantakan.

Apa ini hanya tajuk laris Koran-koran ?,Ataukah memang ujung dari sebuah peradaban.

***

Tak Puas
Tak Puas…Hutan sudah mulai menguning
Sungai sudah teracun limbah
Ikan-ikan mati tak bersisa
Makhluk binasa tiada pangan

Uang sudah melimpah
Tak terhitung berapa jumlahnya Mataku silau melihat harta
Namun tak tahu apa bunganya

***

Kekeringan
Kau sendiri yang merusak tanah surgamu
Jangan heran jika tanahmu tak lagi subur
Jangan heran jika lautmu tak lagi indah
Jangan heran jika musim pun tak tentu arah

Kaulah yang merusaknya
Dengan tangan keserakahanmu
Telah kau jadikan alam sebagai pemuas nafsu
Dan kau lupakan anak cucumu
Mereka, keturunan kita
Pun berhak mendapatkan alamnya
Seperti kita mendapatkan alam kita

***

Drakula dan Kelelawar Berdasi
Kalau saja Bram Stoker orang Indonesia di jaman kini
inspirasi drakula adalah mereka para kelelawar berdasi
menghisap darah sesama
menyedot kering harga diri keluarga

Bagaimanapun juga mereka makhluk nokturnal bertopeng sahaja
penjara tak membuat mereka jera atau menyerah
kelelawar berdasi bukan manusia yang makan nasi
mereka hanya butuh kursi untuk beraksi

***

Jagalah diriku
ku berjalan tanpa henti
Menelusuri jejak langkah bumi pertiwi
Tak kenal putus asa, dan rasa nyeri
Dalam penderitaanku slama ini

Subur akan tanah dan kekayaannya
Air yang selalu mengalir disetiap waktu dan detiknya
Cintai lingkunganku dan cintai seluruh kekayaanku

WAHAI ANAK BANGSAKU

Puisi karya:sendi

***

Taman
Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

***

Puisi Pendek Tentang Alam
puisi pendek tentang alam

Sabda Bumi
Belum tampak mendung merenung bumi
Seberkas haru larut terbalut kalut dan takut
Terpaku ratap menatap Jiwa-jiwa penuh rindu
Hangatkan dahaga raga yang sendu merayu

Bulan tak ingin membawa tertawa manja
Kala waktu enggan berkawan pada hari
Saat bintang bersembunyi sunyi sendiri
Terhapus awan gelap melahap habis langit

Bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang menyerang terang
Tetapi mekar fajar bersama mentari akan menari
Bersama untaian senandung salam alam pagi.

***

Permainya Desaku
Padi mulai menguning
Mentari menyambut datangya pagi
Ayam berkokok bersahutan
Petani bersiap hendak kesawah

Padi yang hijau
Siap untuk di panen
Petani bersukaria
Beramai-ramai memotong padi

Gemercik air sungai
Begitu beningnya
Bagaikan zamrud Khatulistiwa
Itulah alam desaku yang permai.

***

Tanah Airku
Angin berdeir di pantai
Burung berkicau dengan merdu
Embun pagi membasahi Rumput-rumput
Itulah tanah airku
Sawah yang menghijau
Gunungnya tinggi menjulang
Rakyat aman dan makmur

Indonesiaku
Tanah tumpah darahku
Jaga dan rawatlah selalu
Di sanalah aku di lahirkan dan di besarkan
Di sanlah aku menutup mata
Ooooh… Tanah airku tercinta
Indonesia jaya.

***

Senja Yang Indah
Keemasan cahaya di cakrawala
Di ufuk barat saat hari mulai senja..
Terbelalak mata saat memandangnya
Keindahan dari sang maha pencipta..

Sang surya bersiap untuk tenggelam
Menjemput mesra ketenangan malam..
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam..

Lembayung indah tampak kekuningan
Gradasi warna bagaikan lukisan..
Di sudut langit yang tipis berawan
Hiasan terbesar sepanjang zaman..

***

Batu Kelapa
Oleh: Kahlil Gibran

Dua muda bercermin cahaya,
sesaat terik melepas biasnya di perigi
harap. Jengkal waktu merayap malas, bertali
dua perempuan paruh nafas luruh di tepi daun kaca:
merayu sepasang batu kelapa, terpukul nyata.

Keajaiban bagai memikat beliung
rasa dua muda itu, dan gegas melambung
paruh demi sepasang batu kelapa;
memundak gersang terka.

Tak lama batu kelapa menanak
santannya di tempurung berekor bulu.
Mengasah dua muda untuk menilik: adanya
kisah batu di kelapa selepas gelap.

***

Awan
Oleh: Amalia Arum Wijayanti

Bertebaran di angkasa
Putih, kelabu, dan hitam
Warna – warna menawan
Bergelombang mengombak-ombak
Tebal dan sangat indah
Bahkan sang bagaskara tak terlihat
Pelangi terlihat tak penuh
Karna sang selimut menutupinya

Jauh disana
Menyelimuti jagat raya

Tebal tipis
Beredar dimana-mana

Indah bukan buatan
Ingin rasanya memeluknya
Lembut dan menawan
Indah tak terperikan

***

Sawah
Oleh: Sanusi Panc

Sawah di bawah emas padu,
Padi melambai,melalai terlukai,
Naik suara salung serunai,
Sejuk di dengar,mendamaikan kalbu.

Sungai bersinar,menyilaukan mata,
Menyamburkan buih warna pelangi,
Anak mandi bersuka hati,
Berkejar-kejaran berseru gempita.

Langit lazuardi bersih sungguh,
Burung elang melayang-layang,
Sebatang kara dalam udara.
Desik berdesik daun buluh,
Di buai angin,dengan sayang
Ayam berkokok sayup udara

Puisi Pendek Tantang Persahabatan
puisi pendek tentang persahabatan

Maaf, Aku Lupa
Maaf teman,
Kau memang bukan penyimak cerita
Kau juga bukan penanggap yang baik
Tapi setidaknya, kau penutup cerita semua ini
Seringkali kau menjadi pusat perhatian di akhir cerita
Dan kau berguna
Tak masalah bukan?
Ternyata kau adalah sahabatku
Aku masih menganggapmu

***

Selamat Jalan Teman
Teman adalah bentuk nyata dari suatu penghargaan
Sedang musuh adalah bentuk semu dari suatu ujian
Dan hal yang paling kutakutkan dari seorang teman adalah,
Ketika aku melihat punggungnya
Dan ia semakin menjauh tak menoleh

***

Teman Perjuangan
Ayo kawan, apa kau lupa?
Kau pernah berkata padaku
Cerita bukan soal hasil dan tujuan,
Tapi tentang proses dari perjalanan
Dan kau juga berkata,
Perjuangan itu tak ada yang sia-sia,
Dan perjuangan itu tak kan ada habisnya
Jadi, kenapa kau malah tidur di tengah keramaian zaman?

***

Sahabat di Kala Hujan
Terimakasih teman,
Di tengah orang-orang yang berseragam,
Di tengah awan yang mulai gelap
Dan hujan memenuhi suara yang masuk ke telingaku
Ketakutanku mulai memuncak
Nuraniku menggigil
Tapi kau membawakanku sebuah handuk
Kau adalah pelangi
Walaupun kau datang terlalu awal

Posting Komentar untuk "58 Puisi Pendek Tentang Kehidupan, Alam, Cinta, Persahabatan Dan Kehidupan #1"