19 Kumpulan Puisi Cinta Pendek Romantis buat Pacar, Menyentuh Hati

19 Kumpulan Puisi Cinta Pendek Romantis buat Pacar, Menyentuh Hati

Source : titikdua.net

Puisi Cinta Singkat

Pada tegukan kopi terakhirku, tercurah harap dan cita.

Moga sapa pertamamu, awal kisah kita.

***

Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, syair yang kau tulis mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari?

***

Aku sempat cemburu pada awan, yang sering kali kaupandang.

***

Nyatanya, hatiku tak cukup menjadi rumah bagi jiwa petualangmu

Nyatanya, cintaku tak mampu mendinginkan panasnya geloramu

Lalu aku bisa apa?

Mengais belas kasihanmu yang kau cecer sepanjang jalan?

Bukan, itu bukan cinta Jika hanya membawa luka dan derita.

***

Selalu ada yang melintas di kepala, entah itu syairmu, atau wajahmu yang hanya bisa kureka.

***

Cinta selalu punya caranya sendiri, mempertemukan yang terbuang, atau menyatukan yang hilang.

***

Setiap orang memiliki batas kewarasannya masing-masing. Hanya saja, memilih bertahan, diam, atau melepaskan adalah kesepakatan hati dan akal. Pun kau yang sering pulang bertandang dan pergi menghilang.

***

Jika rindumu tak lagi jadi milikku. Lantas, apalagi alasanku kembali ke kota ini?

***

Ada jarak yang terbentang karena rindu

Ada cerita yang terbuat karena jarak

Aku percaya, ceritamu dan ceritaku akan jadi cerita kita saat kita bertemu.

***

Tidurlah, sebab rindu juga butuh istirahat.

***

Puisi Cinta Sejati

Rasa sayang yang kutulis dalam tetesan air mata ini dengan diam

jernihnya selalu menatapmu bersamanya.

***

Selalu ada yang tak diceritakan,

langit kepada hujan.

Entah pagi bersambut kabut,

Atau mendung yang bikin murung.

***

Waktu menguji kita dengan perpisahan, jarak menguji kita dengan rindu, dan air mata adalah hujan yang ikhlas jatuh di dada masing masing.

***

Serupa gelombang lautan, cinta datang saat kau diam, lalu tiba-tiba hilang saat kaukejar. ~

***

Cinta bisa memberikan cahaya

Pada mata yang sekalipun buta

Cinta juga bisa jadi petaka

Meski pada orang yang di surga

Ah, biarlah …

Cinta tak butuh kata-kata.

***

Aku membiarkanmu menikmati fase-fase tersulit dalam menahan rindu, maka izinkan aku mewujudkan mimpimu untuk mengalami fase terindah untuk melepas rindu. ~

***

Gemelisik daun kering menyadarkanku

bahwa semestamu bukanlah aku.

Kerontang daun terseret angin

melebur menjadi luka hatiku.

***

Setelah tidak dengannya, aku akan selalu mencoba untuk tetap baik-baik saja, sebab aku percaya perasaan itu datang tanpa direncanakan, dan pasti juga akan hilang tanpa direncanakan. ~

***

Tak semudah itu merangkai kata. Jika pun sudah terangkai bibir tak bisa semudah itu mengatakannya. Dan masih terlalu rumit untuk di jelaskan. Diamku adalah mencintaimu !!

Sebagai warna, kau ingin jadi apa?

Biru yang damaikah?

Atau merah yang bergairah?

Ayolah,

Kita sedang membicarakan cinta,

Bukan partai pengemis suara.

***

Kau bagian dari hidupku yang tak akan pernah bisa kuulang kembali..

Kau dokumentasi sejarah yang paling indah.

Yang kini, tersimpan abadi dalam sebuah ilusi.

***

Yang kutakuti dari mawar,

Kau tak lagi jadi wangi yang damai.

Namun menjadi duri yang menyakiti.

***

Jika mencintaimu adalah mata pelajaran, maka aku akan hadir; duduk paling depan. ~

***

Bagaimana mungkin kau kan percaya akan rindu ini.. Bila kau menganggap itu semua sebagai suatu hal yang palsu nan tabu. ~

***

Bisa tidak, kau pahami sedikit hatiku, aku bukan melebihkanmu tapi aku justru memperhatikanmu.

***

Menyukai orang sedingin kamu buat aku sadar, jika kamu menaruh perhatian tidak pada sembarang orang. ~

***

Kelelahan akan selalu datang untuk orang-orang yang tak mengerti arah, tak akan tahu dengan tujuannya, pun dengan diriku yang kini tak mengerti arah mana yang sedang kuperjuangkan, tujuan apa yang sedang kutempuh, tentangmu atau tidak sama sekali.

***

Senja tiba dengan rona bayangmu yang memenuhi semesta, sejauh mataku berkaca, wajahmu seperti lampu cahaya yang memenuhi segala. ~

***

Adalah kehilangan. Segala yang seringkali terjadi tanpa diharapkan. Pun bagian kehidupan yang terkadang melahirkan kedukaan.

***

Senyatanya sepi adalah aku, perempuan yang kerap ditinggalkan cinta dan rindu rindu.

***

Kalau rindu itu peluru, engkau pasti penembak paling jitu. ~

***

meski rinduku tak kau balas, meski rasa sayangku tak pernah kau anggap, tapi aku akan bertahan di atas segala perasaan yang sudah terlanjur kurawat, hanya Tuhan yang mampu membuatmu dekat.

***

Hingga hujan redah, kita masih ragu siapa yang ingin memulai.

Jarum jam terus berputar semakin mendesak tapi kau dan aku masih gengsi.

Hingga akhirnya rela menyiksa diri.

Malam semakin pekat dan kita tetap saling menunggu siapa yang memulai

“aku mencintaimu”.

***

Mungkin di benakmu terselip sebuah rasa, tapi dalam pikirmu masih ada dia yang rela meninggalkanmu demi orang yang membuatnya buta dalam mencinta.

Puisi Cinta Romantis

1 Semua Tentangmu

Di ujung lembayun senja

Lamunan berhenti di bayangmu

Bayang yang selalu menjadi mimpi

Pada hati yang menunggu

Di gelapnya temaram bulan

Khayalanku jatuh di dirimu

Sosok yang terus melekat dalam jiwa

Bersama rindu yang mendera

Di terbitnya sang fajar

Pikiranku masih tentangmu

Pada diri yang tertanam di relung

Yang menjadi paruhan hidup.

2 Masihkah Ada Asa

Gemuruh dadaku makin menyiksa

Bagai gelegar suara

Merapi disana

Aku coba bertahan

Walau terasa sesak

Makin sesak ketika

Ku temukan namamu

Perlahan menetes air di pipi kananku

Aku terus dan masih ingat kamu

Andai kaki ini bisa berlari

Kan kuhampiri kamu jauh disana

Tapi tubuhku tetap terpaku

Dengan semua kesibukan yang kucari-cari sendiri

Masihkah ada asa itu.

3 Fajar Untukmu

Mendung hari ini begitu terasa genting

Aku tatap dalam sang waktu meski dia terus bergerak

Dan sinarnya membuat mataku tak dapat melihat jelas

Fajar, aku di sini tetap menantimu

Menantimu menyambut tanganku ini

Fajar, aku memintamu meminangku nanti

Hingga aku menjadi kekasihmu yang sah secara agama

Tapi aku ingin engkau menikahi agamaku dahulu sebelum menikahiku

Lewat puisi ini aku ingin kau membacanya

4 Berdiri Sendiri

Masih berpijak pada tanah yang aromanya basah

Meski halus rasanya tapi nyatanya benang itu membuatku terekat dan terikat

Masih lekat kuat dan basah dalam ingatan akan aku dan dia takan terlupa

Namun ku coba, kucoba berikan sedikit udara

Pada hatiku yang pengap dan sempat pekat

Kucoba untuk pancangkan sebentuk kepercayaan

Pada dirinya yang selama ini telah berusaha menyeka peluhku

Pada dirinya yang selama ini telah menyita sebagian perhatianku

Pada dirinya

Bukan lagi masalah waktu

Namun kali ini adalah bagaimana aku sanggup untuk mengatakan

Mengatakan padanya

Jujur dari hati yang tersembunyi

Bahwa aku, aku tak akan pernah lagi mencintai dirinya yang telah berlalu

Bahwa aku, aku akan selalu beriringan dengannya tanpa bayang-bayang masa lalu

Namun aku belum sanggup

Mungkin suatu saat aku bisa

Mengatakan padanya

Apa yang selama ini aku rasa

Apa yang selama ini aku jaga

Apa yang selama ini aku dekap

Rapat

Dan terhalang

Tentang perasaan hati

Tentang aku yang mencintai dirinya.

5 Menanti Dirimu

Tak bernyawa langkah hati menanti

Sebuah jawaban dari pujaan hati

Menanti dengan sejuta harap di mimpi

Hingga gundah seakan menemani

Setiap gerakan hati melampaui

Ketakutan akan kehilangan mimpi

Mimpi akan datangnya hari

Bersama sang belahan hati

Terhenti

Jika aku terluka

Adakah yang mengobati

Jika langkahku terhenti

Adakah yang dapat membuat ku melangkah lagi

Lama menanti

Ingin berhenti

Lama perahu oleng

Tak ada pulau untuk berlabuh

Hingga ku terlelap

Memendam rasa

Tak bisa ungkapkan rangkaian kata

Sebutir cinta telah tumbuh

Serpihan harapan telah menghilang

Pejamkan mata sejenak

Hanya untukmu

Memberi kenyataan dalam khayalan

Tuk bisa milikimu

Hingga kuterlelap

Ku takkan menyesali

Hingga ku tak terbangun

Kan kubawa cinta ini selamanya

6 Menunggu

Aku masih belajar menunggu

Ketika engkau yang memiliki rindu di hatiku

Pergi tanpa kabar

Tanpa sebuah kepastian

Aku masih belajar menunggu

Ketika engkau yang pernah berkata cinta

Datang dengan kata mesra

Engkau pernah bilang

Aku pasti pulang

Tapi sekian waktu engkau tak datang

Aku masih belajar menunggu

Ketika engkau dan keluargamu meminangku

Menghalalkan seluruh kehidupanku

Aku menunggumu kak

Menunggu senyuman dan pelukan

Yang biaskan semua sesak kekesalan

Tapi

Kau tak pernah kelihatan

Tak pernah kembali

Walau hanya sekedar mimpi

Aku masih belajar menunggu

Kak.

7 Puisi Penantian

Setelah lelah berjalan

Menghitung masa silam

Mereka-reka masa depan

Semua yang kita lalui

Kata berguguran

Kuingin kau hadir

Tidak berupa bayang lagi

Aku ingin

Bersandar di bahumu.

8 Senandung di Ujung Malam

Aku terjaga di kala sepi

Langit nan pekat berarak di atapku

Dan butiran kecil pun turun perlahan dari angkasa

Iringi kesendirian dan kesunyian ini

Rusuk yang bergetar

Alunan nada yang memilukan hati

Hantarkanku ke dunia fana

Menatap langit dengan iba

Akankah malaikat kan turun dengan sayapnya

Nyanyikan lagu pengantar tidurku.

9 Ditemani Bintang

Sendiri aku bermenung di temani bintang

Ku terbayang akan dirimu kasih

Mengapa kau begitu cepat pergi

Ku menderita disini

Mengapa begitu cepat kau ambil dia dari diriku Tuhan

Tereyuh batin ini Tuhan.

Kesendirian ini

Ku lihat bintang berkedip

Ku lihat dirimu melembai-lambai kasih

Memanggilku dengan noda indah diwajahmu

Satu rangkap garis menyejukan hatiku.

Sekarang semua hilang di renyuh mimpi

Hanya ada sebuah kenyataan bahwa dirimu sudah tiada

Bayanganmu mungkin bisa kubayangi tapi untuk menyentuhmu.. ah itu Cuma mimpi

Sekarang hanya aku sendiri yang bersemayam di bumi

Bersama bintang

Aku takkan bisa melupakannya wahai adinda

Permaisuri pujaan hati pendamping Surga Firdaus.

Puisi Cinta Islami

Siapa aku?

Berani menolak cinta

Padahal Allah memberikannya kepadaku.

Ah, kembalikan lagi saja pada-Nya cinta ini.

Dia Mahatahu akan apa yang ada dalam hati.

***

Aku hanya bisa menuliskanmu puisi,

Dan segelas air bila kau haus.

Namun, jika kau ingin merasakan cinta;

Mintalah pada Tuhan saja.

***

Aku rapalkan doa di setiap sujudku yang masih rapuh, meski kau tak mendengar tapi semesta ikut serta mengaminkannya.

***

Jika bertemu denganmu adalah Takdir Tuhan,

Dan berteman denganmu adalah pilihan,

Maka jatuh cinta padamu bukanlah sesuatu yang aku rencanakan.

***

Teruntuk puan yang pernah bercadar sarung. Ijinkan doaku menyelinap saat bulan menemani mimpimu. Berharap munajatku tinggi sampai pada tempat Rabbimu. Hingga ada ijabah dua sayap menjadi satu. Aku dan kamu.

***

Dirantai cinta. Digelangi bahagia. Aku tak mau kembali. Biarkan saja terjerat di sini. Rindu ialah persinggahan terbaik. Saat doaku dan doamu saling mengusik.

***

Bayangkan jika ia tahu bahwa sebenarnya doalah pemanduku menuju jalan jodohmu. ~

***

Saat ini tak tahulah daku di mana Nyonya bermihrab

Tak paham pula daku pasal rahasia Rab

Tapi selama Nyonya sedia dan daku mampu

Insyaallah pijakku takkan gentar dalam menunggu.

***

Dimaki. Dihina. Diragukan. Tapi Tuhan tetap menghidupi. Tapi Tuhan tetap menyayangi. Tapi Tuhan tetap melindungi. ~

***

“Jangan pernah biarkan bara rindu ini padam,” gumamku di sudut senja ini. Menunggu sang malam datang agar ku bisa tumpahkan semuanya dalam simpuhku pada Tuhan. ~

***

Di kota Bandung aku terlahir.

Berubah menjadi sesosok perindu tentang semua yang ada padamu.

Dirimu yang selalu kunanti.

Dirimu yang selalu kudoakan.

Dirimu yang selalu kuceritakan pada Tuhan agar bersanding di pelaminan.

***

Pada akhirnya aku memilih pergi, bukan karena tidak ingin bersamamu, tapi karena kepergianku adalah cara Tuhan membuat kita bahagia dengan takdir-Nya.

Puisi Romantis

Sementara ini, bersandarlah di pundakku hingga letihmu sirna, hingga lelahmu reda. Lantas, setelah semua binasa, kembalilah pada tujuan semulamu, mencari rumah agar semua keluhmu dapat berbaring dengan kekal.

***

Hati yang sudah saling bertautan takkan pernah meninggalkan meski jarak memisahkan karena ia tahu tujuan dan tahu ke mana ia harus pulang. ~

Cobalah berbagi kesedihan denganku. Tak peduli sepahit apa itu. Bagiku, apa pun darimu adalah arak paling candu. Tanpamu malam paling pilu. ~

***

Kudobrak pintu hatimu untuk sekadar melihat sisa rindu yang sempat kutitipkan padamu. Ingin kuambil pecahan rindu itu, untuk kurangkai kembali menjadi utuh.

***

Sebelumnya aku baik-baik saja, menikmati hari dengan penuh tawa.

Namun setelah kedatanganmu, aku sampai lupa, sudah berapa lama aku menitikkan air mata.

Pada seseorang yang datang tanpa sapa dan pergi dengan menundukkan kepala.

***

Air mata bukan akhir dari cerita. Tiap tetesnya mengandung sebuah makna. Betapapun perihnya rasa kehilangan di dada. Namun aku tetap percaya. Engkaulah yang Maha Sempurna. Engkaulah pemilik hati dan jiwa. Allah SWT. ~

***

Tak pernah aku merasa kehilangan,karena sejatinya aku bukanlah Sang Pemilik. ~

***

Jika ada kalimat yang lebih menyakitkan dari pada menahan rindu, tolong beri tahu aku. ~

***

Jangan jadi candu, karena rindu pun sudah cukup untuk membuatku sendu.

***

Kita perlu jarak agar tahu arti rindu. Kita perlu waktu agar bisa bertemu. Dan kita perlu temu agar bisa melebur rindu.

***

Akulah puisi yang sering kau tulis pada selembar kenangan, dan akulah rindu itu yang kau sebut masa lalu tetapi masih kau dekap erat.

***

Kepada senja yang menyisakan tanya. Tolong beritahu malam bahwa rinduku semakin tenggelam.

***

Demi hati yang pernah patah. Aku mencoba berdiri dengan gagah. Bertahan meski luka di hati ini semakin parah. Aku tak ingin lagi jatuh pada cinta yang salah.

***

Biarkan kopi ini kuseduh

Agar pagi ini terasa syahdu

Untuk mengurangi rindu yang menggebu

Agar hilangnya rasa haru

Mengingat dirimu.

Puisi Rindu

Di pelataran waktu, aku menunggu kabar
Ketika jejak-jejak kepergianmu perlahan hilang
Dan angin berjinjit pelan, berembus menyapu kenangan
Kehampaan pun datang dihantar suara-suara kesunyian
Tatapannya beku, mengkapas pias
Aku terdiam, kehilangan…

***

Malam ini kubiarkan diriku merindu
mengingat kenangan dulu bersamamu
berharap kembali
merasakan kebahagiaan lagi
namun sulit sekali
yang bertahan hanya rasa ini.

***

Asalkan kamu masih di bumi. Sudah cukup untuk menghadiahi rindu ini.

***

Beruntungnya aku, kembali melihat senyuman itu, memuisikan lagi tentang hari-hari yang pernah hilang.

***

Saat ini,
Aku menyayangimu tanpa ciuman.
Aku memelukmu tanpa pelukan.
Aku mencintaimu tanpa bercinta.
Dan maaf, hanya saat doa terucap padaNya, aku mengutarakan semuanya.

***

Kau adalah puisi yang beterbangan layaknya camar,
Sementara aku adalah pembaca tanda baca yang begitu samar.
Bukan salahmu, ketika rindu itu tak mampu kujawab.
Aku cuma butuh waktu untuk menerjemahkan.

***

Ada rasa yang membuatku terngiang
Apakah itu rindu?
Bukan
Hanya segumpal kenangan yang ingin diulang.

***

Jadi rindu?
Rindu jadi apa?
Jadi apa saja yang menembus matamu yang bening.
Seketika itu kau bersedih.

***

Seperti katamu, malam takkan menunggu, sebagaimana rindu.
Namun, kau bahkan telah lupa, pada diriku ada yang begitu keras kepala; ingatan yang dulu memperkenalkan diri sebagai kita.

***

Setangkup roti dilumuri selai rindu, secangkir kopi beraroma ingin, dan matahari bersinar sehangat pelukan, selamat pagi, Kekasih.

***

Cinta yang terlambat datang bersama hujan sore ini, menurunkan rintik rindu yang tak kunjung bertemu
Cinta yang terlambat datang bersama mendung awan, menyesali betapa gelapnya hati untuk merasakan.

Puisi Cinta Sedih

Terkadang aku ingin kau lepas dari nyaman yang dia ciptakan

Maafkan aku yang sesekali buruk dalam mendoakan

Mungkin karena egoisme yang telah membutakan atas nama ingin memiliki

Namun…

Percayalah, semua itu demi hal baik yang harap kau dapati.

***

Cemburu yang kubakar dengan amarah itu,

Nyatanya tak menyelesaikan masalah.

Kau tetap memilih pergi,

Meninggalkan aku dengan semua luka, kecewa, dan air mata.

***

Ketika aku peduli kau suruh untuk pergi

Ketika aku kembali kau telah mengunci hati

Kau bilang terima apa adanya

Namun kini kau rusak wangi romansa

Dan ukir semua derita yang membekas dalam dada.

***

Aku menikmati dusta, duka, luka dan kecewa tanpa kecuali

Mengharapkan cinta yang lepas dari busur kesucianmu

Kasih,

Kuperbudak diriku padamu untuk cinta yang sia-sia

Apapun yang menimpaku, aku yang salah

Dari awal akulah yang salah

Semuanya aku yang lengah dan kalah.

***

Hujan tetiba datang, seperti kawan lama yang menumpahkan segala kerinduan. Dinginnya segera mendekap tubuh seakan ingin menggambarkan kesendirian. Setidaknya kini aku tahu, dalam ramaimu ada sunyi yang meradang.

***

Luka kemarin belum sembuh betul

Dengan angin yang mendayu

Sore ini, kembali kau tikamkan padaku

Benda tumpul yang kusebut kenyataan

Di berandamu kau asyik memainkan senyummu

Sementara di berandaku, kau biarkan air mata membasahi pipiku.

***

Matamu basah umpama daun daun pagi ditempeli embun.

Bening airnya

Hanya saja aku tak suka Melihat itu menyesakkan dada

Maukah kau cerita meluahkan yang kau rasa?

Tak perlu denganku.

Puisi Sedih

Semesta punya cara sendiri untuk membuat kita bersedih kasih. Ia hadirkan hujan agar kau terjebak dalam kenangan. Ia datangkan senja agar kau teringat senyumnya yang manja. Ia berganti menjadi malam agar kau sendirian dicabik rindu yang dalam. ~

***

Belum pernah aku seikhlas ini melepaskan, entah ini karena cinta, atau karena pernah terluka.

***

Sejak kepergianmu. Kumerasa ada sesuatu yang hambar.
Ada suatu ruang yang terasa kosong.
Ada suatu celah yang terasa sepi.
Sulit memang, ketika pikiran memaksa kita untuk ikhlas, tetapi hati kita berkata lain. Ada sisi dalam lubuk hati yang berkata-kata ia tidak bisa ikhlas.

***

Memaksa hal yang tidak sepantasnya untuk kita itu memang sebuah tantangan
Kelak setelah kau mendapatkannya , kau mulai tidak peduli dengan kepergiannya.

***

Tak ada yang abadi. Begitupun cinta Datang dan pergi bagaikan mimpi Yang selalu menaburkan keindahan Juga menggoreskan luka.

***

Ke mana kau akan melabuhkan riuhnya perasaan, ketika derunya perundungan mendesakmu untuk memiliki pasangan. Aku, tempat curhat terbaikmu, atau dia, penyebab kau curhat padaku. ~

***

Tuhan memberi luka yang pekat hanya kepada hati hati yang kuat.
atau
kepada hati hati yang nekat.

***

Mencintaimu
Saya harus menjadi malam.
Yang diam-diam sanggup membuatmu hangat terpejam.
Meski paham saya akan mengelam langitnya.
Yang dalam-dalam sudi membuat lelah luka hatimu karam.
Meski paham saya akan terbenam akhirnya.

***

Sengaja kusimpan rinduku dalam secangkir kopi.
Aku tak ingin terlihat lemah dengan rasa yang kadang tak ku mengerti.

***

Bayangan kelam masa lalu itu mengusik lagi. Suara jangkrik seolah membisikkan janganlah kaularut pada rasamu, Jika memang rasa itu telah mati, kuburlah bersama angin malam. ~

***

Aku menggambar satu bintang untuk gelap malam ini dari mata seseorang yang telah meneteskan kesedihan, menghapus namaku. ~

***

Terhempas dalam kesunyian ku berdiri, hampa tanpa dirimu yang selalu menemani, tak terlihat lagi senyuman manis, keterpurukan yang membawaku menjadi lemah, tak memiliki arah dan keberanian, hanya karena tak mampu untuk mengungkapkan perasaan. ~

Puisi Cinta Pendek

Semenjak aku mengenal syair, hati yang beku mulai cair, semoga senja kali ini resah yang terakhir, hingga cintaku kembali terlahir.

***

Kekasih

Tetaplah di sini bersamaku

Menatap gigil pagi dengan embun-embun berjatuhan di ujung daun

Duduklah sejenak

Nikmati mentari meruapkan wangi rumput liar, menciumi kulitmu dengan keharuman Tersenyumlah

Angin tak akan pernah bosan membelai ranum tomat pipimu.

***

Kekasihku

irama di dalam jiwaku

pahamilah

cintanya lebih baik dari cintaku.

***

Jangan-jangan kita adalah dua perasan yang terperangkap basa-basi.

***

Pergilah, akan kusimpan tangisku, Tuan. Bukan tidak ingin. Tapi, selain milikmu, aku tak tahu bahu mana lagi yang bisa menjadi wadah dari air mataku.

***

Rindu yang sekarang, biarkan diberi temu, sebelum nanti menjadi dungu karena lama menunggu.

***

Cintaku padamu adalah sebuah waktu, dan yang mampu kamu ketahui hanyalah sebuah ruang.

***

Aku menyukai pagi, lamat kulihat sinar mentari dari celah rambutmu yang tergerai, menerpa senyummu yang semanis gulali, bahagia itu sederhana sekali.

***

Aku tak mengerti… mengapa kau teteskan air mata saat aku pergi, saat kutanamkan rasa rindu yang tak bertepi, Tapi aku sudah sadar dan mengerti dengan semua rasamu itu, ku berjanji tuk menemuimu lagi di hari nanti.. ~

***

Begitu pagi saat jantungku berdegup kencang menterjemahkan isi pikiranku yang ternyata kamu. ~

***

Aku yang tidak becus mencarimu atau kamu yang terlalu cerdik menghindariku?

***

Aku menutup diri dari bumi dan menghilang dalam sunyi.

Aku takut memperkenalkan diri dan membuka hati.

Tapi, sampai saat ini aku masih menyukai dan mencintai kamu berulang kali.

Walaupun hatimu telah lama mati.

***

Sesekali, bolehkah aku berkunjung ke wajahmu? aku ingin membawakan senyuman untuk bibirmu yang beku.

***

Ini bukan tentang kamu. Hanya rindu yang sedang berperan sebagai tamu. Diam-diam menyelinap membisikkan temu. Setelahnya, bergegas pergi menjelma semu.

***

Kepergianmu menyadarkanku,

Bahwa kesetiaan yang kau tinggikan dulu masih kalah tinggi dibanding rinduku saat ini.

Puisi tentang Cinta

Senyummu serupa senja

Walau indah ia hanya sementara

Tak selamannya selalu ada.

***

Sekali lagi, jika engkau bersedia menjadi rumah setiap rindu dan perasaanku.

Tetaplah kokoh dan meneduhkan.

Akan kuhiasi ruangmu dengan segala temaram lampu terindah.

Menjadikanmu tempat istirahat dan pulang yang menyenangkan dan kurindukan, Sayang.

***

Rembulan gemetar, mengapung di danau.

Kita duduk pada hati yang batu, sebentar lagi pecah lebur jadi debu bersama duka-duka tubuh,

Sebab pelukan dan cintamu yang utuh.

***

Bertiuplah wahai angin, sibaklah helai demi helai rambutku, dan biarkan huruf-huruf berjatuhan sebagai puisi–di depan kamarmu.

***

Tak terasa hari sudah siang, di luar jendela, angin membelai pucuk pucuk dedaun, di dalam kamar, aku masih mencari kata-kata yang indah untuk memuisikan parasmu.

***

Rindu yang mengajariku untuk merangkai puisi, dan cinta adalah tinta yang membuat jelas terbaca. Dan kamu, adalah nafas dari jari-jariku untuk tetap bergerak di atas selembar harapan tanpa batas.

***

Aku tak lagi butuh temu bahkan gelak tawamu sudah tak perlu lagi kudengar Kini tawa bisa kutemukan; Dari wanita yang menyajikan kopi pertama di malamku yang kedinginan.

Puisi Cinta dalam Diam

Aku tak tahu ke mana arah diammu

Kian kejam menghukumku

Terlalu rimba nestapa ini kutebang

Entah apa yang akan terjadi

Entahlah…

***

Di setiap pagi, ada yang mulai menggelitik sanubari, syair yang kau tulis mewakili isi hati, bagaimana kabarmu hari ini, Bidadari?

***

Padamu, malam, aku malu, pada angin yang berkibas bebas, sedangkan aku sendiri terbelenggu rindu yang semakin menggebu.

***

Yang aku tahu darimu

Hanyalah perihal apa yang aku suka

Sebelum kautunjukkan padaku

Bahwa kau juga bisa memberikan luka.

***

Berhenti sudah aku

Mecintaimu yang tak pernah tahu aku

Mengenal pun tidak, kan?

Ah, sakitnya …

Ternyata ini bertepuk sebelah tangan.

***

Sesederhana ini kauciptakan rasa gembira, kaubawakan aku dekapan, lalu kaurajut rindu menjadi sebuah kecupan.

***

Pada akhirnya, kau mampu menggagalkan kakiku untuk melangkah dan tak pernah membiarkan perasaanku kepadamu berubah.

***

Pagi yang cerah menyambutku dengan riang, tak terkira dirimu hadir memberikan senyum manja, bahagia tak terbatas ku dibuatnya, terlihat wajah gembira ku memandangnya, satu pintaku untuk selalu mencintaimu tak terhingga. ~

***

Menetaplah. Ini tidak akan baik karena semua kepergian menyisakan jejak yang cukup pelik.

***

Entahlah..

Saat mereka berbicara tentang Rasa,

Kamu muncul dalam benakku begitu saja.

Jika artinya adalah Suka,

Maka aku tidak mau mengakuinya.

Karena aku membencinya,

Berjuang untuk seorang yang berjuang untuk orang lain.

***

Janganlah kau takut..

Aku tiada pernah akan meninggalkanmu..

Demi hatimu..

Aku akan selalu ada disini untukmu..

Meskipun hanya memerhatikanmu dari jauh.

***