49 Puisi Ibu, Syair Penuh Arti Dan Menginspirasi Untuk Bunda Tercinta #2

49 Puisi Ibu, Syair Penuh Arti Dan Menginspirasi Untuk Bunda Tercinta #2

Source : kozio.com


Kurasa Hatimu

Menangis

Jangan ditahan

Luapkan rasa hatimu

Tapi kau tetap tersenyum


Tersenyum

Lembutkan garisnya

Ikhlas kau tunjuk

Pada tegar menghadapi hidup


Tenang

Kau bersembunyi

Dari rasa sesak

Kau tampil begitu lembut


Ibu

Doa terpanjat

Dalam telapak tangan

Kau menengadah pinta indah


Ibu

Senyummu terlintas

Pada getar rasamu

Hingga tenang hati kami


***



Bait Sajak Untuk Mama

Tetes-tetes darah…keringat dan air matamu

Cukup sudah menorehkan

Prasasti-prasasti indah di hidupku

Menggenapi di setiap celah ruang dan waktu


Gumam doa tulus nan sederhanamu

Jua ….keriput di kening tuk menata asa

Demi anak-anakmu

telah menjadi saksi

Pada hamparan permadani indah beranda syurga


Akhirnya…..

Maafkan bila belum sempurna baktiku padamu

Saat renta usia menjemputmu….mama, Maafkan kami anak-anakmu

Selamat jalan…..ma

Merengkuh jalan panjang menuju haribaan-Nya

…… Tuhan Semesta Jagad Raya


Yakinlah suatu saat bersama takdir, nanti

Kita kan tersenyum bersama semerbak harum surga

Amien……


***



Bagai Malaikat Tanpa Sayap

Ibu..

Engkau inspirasiku..

Aku berkelena ke ujung dunia

Bayangmu selalu ada disampingku

Secerca harapan darimu

Ku jadikan pedoman di setiap langkahku

Dalam doamu selalu tersebut namaku

Kau tameng dalam hidupku

Kau penyemangat terbaik dalam hidupku

Kau bagai malaikat tanpa sayap untukku

Engkau segalanya untukku

Aku tanpamu bagai angin tanpa arah

Engkau bagai lautan samudera

Tempat mencurahkan segala kegundahan hati


Ibu…

Terimakasih atas kasih sayangmu

Terimakasih atas perjuanganmu

Terimakasih atas perhatianmu

Terimakasih atas setiap tetesan keringat yang tercurah untuk anakmu

Terimakasih atas pengorbananmu


Ibu..

Maafkan amarahku

Maafkan keegoisanku

Maafkan kenakalanku

Maafkan aku atas airmatamu

Ibu.. engkau cahaya penerang dalam hidupku

Jika orang bertanya padaku siapa pahlawanku? Pastilah engkau Ibu jawabanku..


***



Ibu Yang Tak Terganti

Ketika kupandang lekat pada sudut matamu

Tersimpan derita yang begitu mendalam

Aku tahu disana banyak tersimpan air mata untuk kami anakmu

Air mata yang telah kami lakukan

Ibu

Engkau selalu berharap kami anakmu yang kan jadi nomor satu

Namun sering kali kami melawan dan melalaikan perintahmu


Kami selalu membuatmu bersedih

Mulai sekarang aku bertekad untuk menghapus air matamu…

dan menggantinya dengan canda dan tawa


Terima kasih Ibu

Kau takkan pernah tergantikan di dalam hati kami anakmu


***



Bidadari Dunia

Dia…


Adalah insan yang diidamkan kaum lawan

Adalah insan yang dihormati kaum alim

Adalah insan yang dirindui kaum bercahaya

Tanpanya…

Kau takkan mudah meraih yang kau pinta

Kau takkan mudah tangguh dalam berjuang

Kau kan mudah merasa lelah


Ingin sekali ku indahkan namanya

Ingin sekali u indahkan derajatnya

Ingin sekali ku persembahkan hadiah untuknya

Namun apa daya, aku hanya seorang lemah


Cintanya menghapus semua duka

Cintanya menghapus semua lelah

Cintanya membunuh semua kalah

Cintanya membuat diriku perkasa


Dia…

Akankah kucapai apa yang diimpikan?

Akankah kubahagiakan dengan hatinya?


Apakah aku akan terdiam dengan lemah?

Tidak! sekali lagi tidak! karena ku yakin

Ku dapat menaikkan derajatnya

Ku dapat menarik kedua tepi bibirnya dengan hati lapang

Ku dapat membawanya ke Surga


Namun, siapakah dia?

Mengapa dia sungguh digila-gilakan?


Biarku perindah

Biaarku camkan

Biarlah kuucapkan

Daialah… Bidadari Dunia


Bidadari Dunia – oleh Faris DN


***




Hanya Rindu

Ibu,

Andai aku bisa memelukmu

Akan ku tumpahkan semua tangis ini,

Bahumu membuatku merasa aman,


Ibu,

Wajahmu menyejukkan hati,

Senyummu bisa menghilangkan bebanku,


Ibu,

Air mata ini terus mengalir karna merindukanmu..

Rindu akan tawamu,

Rindu canda mu,


Ibu…

Aku hanya rindu…


Hanya rindu – oleh Rani Ramadhini


***



Kerinduan

Gerimis bertaut membasahi tubuh

Rinainya jatuh menjadi tangisan dimataku

Rasa ini membeku¡­

Membatu mengingat kisah lalu

Saatku lincah nan lugu, Waktu kecilku..


Biarlah nafasku bercerita tentangmu

Bersajak indah memanggil namamu Ibu..

Aku teramat merindukanmu

Aku rindu.. Rindu masa itu..

Rindu saat ibu menimangku..

Berbisik doa merajut sanubariku..


Semoga ibu disana tersenyum bahagia selalu..

Doa anakmu yang selalu menyertaimu..


***



Ketulusan Seorang Ibu

Ibu…

Engkau bagaikan pelita dalam hidupku

Di waktu ku gelisah, tertatih

Kini engkau selalu ada dan menemani

Menjagaku di saat ku kehilangan arah

Membuatku lebih kuat akan segalanya

Yang mengajariku arti kedewasaan dan kerendahan hati

Engkau bagaikan embun di pagi hari..yang selalu menyejukkan jiwa ini


Tuhan..

Sayangilah dan jagalah ia, seperti kasih sayangnya yang tak pernah pudar kepadaku

Inginku melihatnya tersenyum bahagia dengan keberhasilanku

Aku bagaikan debu di dunia ini.

Tanpa ada seorang IBU yang selalu menghiasi hari-hariku

seperti tak berguna jiwa dan raga ini tanpa kasih sayangnya

Ku tak akan mengerti arti kehidupan tanpanya

Ku bahagia dengan keberadaannya di sisiku


***



Puisi Untuk Ibu

Meskipun dirimu manusia biasa

bagiku engkaulah malaikatku

yang tak pernah lelah

membimbingku


ibu, maafkanlah aku

yang dulu sering tidak memahamimu

yang kadang meremehkanmu


ibu engkaulah surga itu

tak pernah terlambat memberi kedamaian

semoga kau bahagia selalu

semoga aku dapat membahagiakanmu


ibu, hari ini kami memperingatimu

ibu, “selamat hari ibu”

terimalah salamku

dari anakmu


***



Keikhlasanmu Begitu Tulus

Tak pernah ada kata letih

Walau panas menerpa

Perih mendera

kau selalu tabah


Saat mendung dukacita

Ku tau rasamu..tapi bisa apakah aku?

Saat hujan air mata

Tanganku masih terlalu kecil untuk menyekanya


Sekarang ku mengerti

Jalanmu dulu kini kulalui

Perihmu dulu kini kurasai

Kisahmu dulu kini kujalani


Ibu

Kadang aku tak percaya

Tapi ini nyata

Yaahh, ini nyata

Kini kujalani..


Ibu

Kerelaanmu begitu mulia

Keikhlasanmu begitu tulus

Keanggunanmu begitu nyata

Kelembutanmu begitu sempurna


***



Bunda, Ku Rindu Kau

Waktu itu,

Aku melihat senyummu di kala Dhuha

Burung burung menyambut langkahku

Berkicau kicau mendesah sebuah nada yang elok nan indah

Oh bunda, kau cantik sekali di pagi ini


Teringat kenangan manis melambai lambai

Tak pernah kabur dari simpanan memoriku

Untaian kata lembut terngiang ngiang di udara pikiranku

Oh bunda, Kau yang terindah


Terpeleset pikiranku lama tak berjumpa

Sekian lama tak tersentuh kabarmu

Maafkan bila tak menyapa lebih dekat

Jauh nian diriku tak melihatmu

Wajahmu di awan selalu menghantuiku

Oh tuhan, lindungilah dia


Maafkan daku,

Belum bisa terbang kesana..

Oh Bunda, Ku Rindu Kau


***



Mengingat Ibu

Dengan berselimut kesendirian

Kuterbangun menatap langit langit kamarku

Terlintas di benak sosok engkau

Yang selalu menemaniku menjemput pagi

Yang selalu menemaniku menikmati panasnya sinar matahari

Yang selalu menemaniku menyaksikan bulan dan bintang

Dan kembali mengantarku ke dalam tidur yang panjang

Semua itu kini tak dapat lagi kurasakan

Karena saat ini ku jauh darimu

Mekipun sebenarnya ku tak bisa

Namun ku yakin semua itu akan berakhir


Ibu…

Aku rindu dengan senyummu

Aku rindu dengan kasih sayangmu

Aku rindu dengan belai lembutmu

Aku rindu akan pelukmu

Ku ingin kau tahu itu


Ibu….

Kau selalu ada

Di setiap hembusan nafasku

Di setiap langkah kakiku

Di setiap apa yang ku gapai

Karena kau begitu berarti dalam hidupku


***



Untuk Ibuku tercinta

Ku ingin,

Menghirup udara yang kau hirup.

Melangkah,

Di tempatmu melangkah.

Berteduh,

Di tempatmu berteduh.

Dan terlelap di atas pangkuanmu.


Ibu…

Ku hanya ingin selalu bersamamu.

sepanjang waktuku…


***



Saatku Menutup Mata

Oleh Fahmi Mohd


Saat ku menutup mata bunda…

Aku tak ingin mata itu melihat ku dengan penuh air…..

Saat ku menutup mata bunda…

Aku tak ingin hati itu seakan tergores…..

Saat ku menutup mata bunda…

Aku ingin bibir itu terseyum…..

Aku tidak ingin engkau terluka…..

Bunda…

Mungkin ini adalah lihatan yang sangat bagimu…….

Tapi aku tak ingin melihat dengan seakan tak sanggub melepaskanku….

Bunda….

Aku hanya ingin engkau merelakan ku…..

Dan mengantar kan aku pulang ke rumah ku dengan senyum mu…

Saat ku menutup mata bunda….

Aku ingin kau tau bahwa ku…

Menyayangimu….

Bahwa ku …

Mencintai mu….

Aku bahagia bisa jadi anak mu….


***



Perjuangan Tanpa Banding

Bermula dari kasih sayang tulus

Lukis semua rasa yang halus


kini ku mulai cerita

Saat merintih menahan dera

Tiada banding hantamannya

Bagai terbakar larpa

Tak perna ia peduli jiwa kan tinggalkan raga


Tak ada lukisan betapa menakutkan itu

Layaknya petir bergemuruh

Samua daya dan harap tumpah

meruah semua gelisah


Tiada sedetikpun yang mau

Mau sejenak beri ruang untuk mengeluh

Raungnya menyayat kalbu

Tak terhitung butir-butir peluh

Tapi badai belum berlalu


Ia masih dan belum berhenti berperang

Genggaman tangannya bagai remukkan tulang

Hanya dia sendiri yang tau

Jurang yang akan dia lalu


Kini Rintih pergi

Dan air sebening salju pun mulai berlinang¡

Tak kala rengek meraung lantang¡

Cemas melayang hilang

Karena seonggak daging dan gumpalan darah telah datang¡

Datang bagai bintang¡


Kumandang asma illahi terdengar memenuhi setiap sisi ruang¡

Lahir la buah cinta yang beri terang¡


***



Pantaskah Aku

Ku duduk berdiam diri

Wanita yang mulai renta ku pandangi

Wanita yang selama ini mengasihi

Serta merawatku sepenuh hati


Seorang wanita yang tak kenal mengeluh

Yang tak peduli dipelipisnya berjuta peluh

Yang bekerja keras tak kenal waktu

Hanya demi kesuksesanku


Tapi pantaskah aku ?

Masih dicintainya

Masih disayanginya

Masih menjadi kebanggaannya


Aku hanyalah anak tak tau diri

Yang hanya tidur dan pergi setiap hari

Yang membentaknya kala dinasihati

Yang manja dan mementingkan diri sendiri


Pantaskah aku, ibu ?

Mendapat kasih sayangmu

Mendapat cinta tulusmu

Memanggilmu seorang ibu


Aku marah,

Aku benci,

Pada diri sendiri


Mengapa baru ku sadari ?

Aku mengecewakannya

Aku beban hidupnya

Aku berdosa padanya


Pantaskah aku,

Mendapat surgamu ibu ?


***



Citra Keagungan Lambang Kasih Suci

Ibu oh Ibu, engkaulah

Citra keagungan dan ketulusan hati

Dalam mengasihi dan menyayangi

Maka bersama doa restumu, kami melangkah

Menempuh perjalanan, menyibak rintangan,

Menembus badai topan

Menyongsong matahari harapan

Menjadi manusia melia yang keberadaanya

Membawa manfaat dan untaian makna


Ibu oh Ibu, lambang kasih suci

Di keteduhanmu kami menikmati nuansa firdausi

Bersama ayah, adik, dan kaka yang saling menyayangi

Mewujudkan keluarga bahagia, dan dari sinilah

Kami berangkat menuju medan juang dan berkiprah

Dalam studi, berkarya, beribadah

Merajut jati diri beradab berbudaya


Ibu oh Ibu, engkau jualah

Nurani kemanusiaan penuh pengabdian

Teladan dalam keikhlasan dan perjuangan

Menjadi insan bermartabat


Ibu mengambil peran dalam kancah di masyarakat

Setia membersamai suami dan kami

Menyemangati dalam meraih prestasi

Penuh sikap peduli dan rasa simpati


Ibu oh Ibu,

Kepadamu kami berbakti

Bersamamu saling menyayang dan mengasihi

Saling memuliakan dan menghormati

Menerjemahkan ajaran Illahi.


***



Samudra Kasih Bunda

Ibu selalu memberi, memberi, memberi

Sedari kita kecil hingga dewasa

sampai dia pun tutup usia


Kasih sayangnya pancaran kasih sayang Tuhan

Tulis ikhlasnya pancaran tulus ikhlas Tuhan

Dia samudra amat dalam dan langit luas kehidupan


Dia seindah kerajaan burung-burung dan terumbu karang istana ikan

Yang menjajikan kedamaian dan hidup bahagia

Dia benteng pelindung atas bencana menimpa

Meski tubuhnya sendiri renta

Ibulah cahaya-cahaya di kegelapan

Pandu penunjuk jalan lurus

Karena hati dan cintanya yang tulus

Pengorbananmu, Buda, iklas sumbangsihmu

Teladan bagi banyak hal yang bernama baik

Dengan akhlak dan cantik


Dari rahimu kan lahir anak-anak salih-salihah

Di telapak kakimu tergelar surga

Karena selalu kau jaga langkahnya


Di hadapan ibu yang mulia

Terkaparlah anak-anak durhaka

Ialah mereka yang mengingkari dan mengkhianati

Tulus mendalam kasih sayangmu


Yang lalai dan lupa karena tipu daya dunia

Maka samudra ampunmu, Buda, kumohonkan sepenuh kalbu

Jika kami pernah bersalah, berdosa

Seringnya mengecewakan dan menyesakkan nafasmu


Adapun doa restumu, Bunda, panjatkan dan limpahkanlah

Untuk putra-putri yang mendambakanmu

Sebelum kami berangkat mengayun langkah

Membuka lahan-lahan kehidupan.


***




Tangisan Air Mata Bunda

Oleh Monika Sebentina


Dalam senyummu kau sembunyikan lelahmu

Derita siang dan malam menimpamu

tak sedetik pun menghentikan caramu

Untuk bisa memberi harapan baru bagiku


Seonggok cacian selalu menghampirimu

secerah hinaan tak perduli bagimu

selalu kau teruskan cara untuk masa depanku

mencari harapan baru kembali bagi anakmu


Bukan setumpuk Emas yang kau menginginkan di dalam kesuksesanku

bukan gulungan duit yang kau minta di dalam kesuksesanku

bukan juga sebatang perunggu di dalam kemenanganku

tapi permohonan hatimu membahagiakan aku


Dan yang selalu kau berkata terhadapku

Aku menyayangimu saat ini dan pas aku tak kembali bersama denganmu

aku menyayangimu anakku bersama dengan ketulusan hati ku.


***



Maafkan Anakmu, Ibu

Hingga hari ini

Belum bisa membalas jasamu.


Engkau yang bersusah payah

Berjuang demi anakmu ini.


Engkau rela berletih-letih,

Bekerja di setiap hari,

Demi melihat diriku tak kekurangan apapun.


Ibu,

Maafkan diriku

Yang bisa memberimu.


***



Pergimu Tiada Kembali

Bila sepi malam seperti ini,

Rinduku padamu mengusik jiwa.


Teringat akan senyumanmu,

Yang meneduhkan, mendamaikan, dan menenangkan jiwaku.


Ibu,

Sedih ini kan terobati

Seandainya engkau ada di sini.


Galau ini akan terhapus,

Jika engkau masih bersama kami.


Kini hanya doa

Yang bisa kupanjatkan.


Moga engkau bahagia di alam sana.


***



Jerit Batinku, Bu

Kesalku, marahku, tangisku

Seakan tak terdengar

Tak terjamah.

Seolah – olah itu bukan hal penting dan patut dipahami

Pendapatku ?


Jangan tanya bahkan sama saja tak terdengarnya.

Tak akan dimengerti oleh ibuku.

Aku selalu bertanya kepada semesta

Mengapa aku memiliki ibu seperti ini ?

Apakah benar dia ibu yang terbaik bagiku ?


Bagiku dia sangat menyebalkan.

Tidak mau introspeksi diri.

Tidak suka dikritik, bahkan selalu merasa benar.

Seakan-akan semua anak remaja di dunia ini itu selalu salah.

Selalu tidak pintar.

Kau kerap kali bandingkan ku dengan anak tetangga, yang jauh lebih pintar

Jauh lebih – lebih diatasku.


Darahku kerap kali mendidih ketika aku dibandingkan dan tidak pernah dipuji.

Kau anggap anakmu ini tak punya hati apa ?

Kau pikir hati anakmu ini terbuat dari batu akik apa ?

Sakit bu. Sakit.


Terus saja kau goreskan lara dalam batinku ini.

Tak lelahkah mulutmu berucap demikian ?

Aku lelah bu. Aku lelah mendengar hujatanmu.

Aku lelah mendengar semua perkataan pedas tanpa perasaanmu padaku.

Lebih baik aku tuli.


Daripada aku selalu saja mendengar omelan dan akan menggoreskan lara yang sama pedihnya.


Salahkah aku berpikir demikian ?

Jahatkah aku ?

Dosakah semua perasaan lara ini ?

Lagi – lagi aku tak tahu apa jawaban pastinya.

Saat ini aku hanya percaya semesta.

Karena semesta hanya diam dan menyaksikan

Tanpa pernah memihak para manusia-manusia malang.


Jerit Batinku, Bu.. – oleh Siti Junewati


***



Setetes Air Mata

Setetes air mata seorang ibu

gejola hati yang seakan akan ingin menjerit

air mata terus mengair

membasahi kedua pipinya

yang sangat lembut


Dimalam yang sunyi gelap gurita

kedinginan yang merada ditubuhnya

hati yang terluka terhanyut dalam kesedihan

seorang ibu terus

meneteskan air mata

dan ia mulai bertanya


kepada seorang anak

ia mulai mengucapkan

kata kata dengan lisan

mulutnya seakan akan ingin marah

penderitaan yang dirasakan


Ia mulai berbaring

dan meneskan air mata

apa yang ia rasakan

dan mulai merenung dan diam

tanpa kata kata


Setetes air mata – oleh Hanim Fatmawati

Madiun


***