Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

54 Puisi Rindu Kekasih, Sahabat, Mantan, Pacar, Ayah, Ibu #5

54 Puisi Rindu Kekasih, Sahabat, Mantan, Pacar, Ayah, Ibu #5

Source : kozio.com

 

Puisi Rindu Ibu

 

Bunga Puti Lembayung

Puisi Rindu Ibu Oleh Iyut Fitra

Bunda, bagi anak-anak yang akan lahir dari rahim waktu
aku telah menyusun rakit, bila badai itu datang
cepat panaskan pagi hari kita, hingga kenangan bukan
sejarah kepahitan demi kepahitan

Bunda, lihatlah langit meminang matahari
saat aku menyentuh hari berkabut, hujankah yang turun
hingga aku teramat rindu pada kanak-kanak itu
dan lanjutkanlah dongeng-dongeng yang tak usai
sepanjang perjalanan.

***

Sepasang Mata Yang Berkabar

Mataku. Batu yang jatuh
ke lubuk mabuk
Dipeluk dingin
hening merayap tebing

Menadah senyap dasar
dari situ aku ingin bergemuruh
berkabar
mengaliri jejak yang tertinggal

Bu, mataku boleh tak pulang
ke liangnya
tapi airnya yang leleh
jadi penyejuk hatimu
penawar luka agar tak dalam

Mataku. Kembar sepasang
direnggut arus menderas
dimabuk peluk
memecah diam

Bu, engkau ada di mataku
walau sekadar bayang di kulit air

Puisi Rindu Ibu Oleh Raudal Tanjung Banua

***

Rindu Ibu

Di malam-malam nan gelap ada satu nama ku sebut, Ibu
Di siang-siang nan terang, hati terasa kelam kalau belum titip salam untuk Ibu
Jarak menjadi pemisah rinduku dan rindunya bertemu
Waktu yang berjalan membuat rindu ini semakin tertumpuk

  Puisi Lucu

Sedang apa hari ini, Ibu?
Ku harap kau akan selalu tersenyum
Ku harap goresan tanganmu hari ini
Membuat Pencipta tersanjung

Jangan tanya aku sedang apa
Sudah pasti berjuang membahagiakanmu
Meski kelam silih berganti menghasut
Ku tahu doa Ibu menerangi setiap langkahku

Ibu…
Biarlah rindu ini menjadi bara
Yang mengobarkan setiap niat dan harapan
Biarlah sujudmu terus menjadi pelita
Yang menuntunku dalam kegelapan

Ibu…
Biarlah rindu ini ku pupuk dulu
Hingga sampai waktu Sang Pencipta mengizinkan
Kita akan bertemu
Dan ku kalungkan bahagia di lehermu

Puisi Rindu Ibu Karangan Arya Sarimata

***

Membaca Wajah Ibu

Di situlah bintang itu, terselip dalam kelopak mata
tetap cerah, tetap indah
dan aku pun larut dalam sinarnya

Di situlah laut, mengalirkan hawa dingin
bagi setiap perjalanan
tetap teduh, tetap biru
membuatku selalu kangen dan terpana

Di situlah sumur,
yang tak pernah lelah memberi
aku adalah gayung,
yang masih tetap menimbanya

Puisi Rindu Ibu Karangan Mustafa Ismail

***

Bunda, Sedang Apa?

Nda…
Pagi ini apakah bunda sudah sarapan?
Salam rindu dari tanah perantauan
Aku ingin bertemu dan ingin sekali rasa rindu ini ku lawan
Ku ingin sekali dengan harum masakan rumahan
Aku bosan nda, dengan mie instan

Nda…
Bunda sedang apa, sudahkah tidur malam ini?
Aku kesepian, tiada yang menemani
Di malam kota dingin ini, aku sedang minum secangkir kopi
Jadi teringat, dulu bunda yang selalu meracik kopi ku

Dan aku ingat pula, terkadang kopi itu tak ku habiskan
Namun bunda selalu tidak bosan untuk membuatkan
Moga bunda baik-baik di sana ya

Do’a kan aku betah bekerja
Untuk apa? Untuk membahagiakan bunda

Aku rindu nda… semoga cepat kita berjumpa

***

Kidung Rembang Petang

Puisi Ibu Oleh Dimas Arika Mihardja

Seiring lagu rindu kuketuk pintu hatimu, ibu telah lama aku berjalan menembus kabut di matamu mengurai mbako susur yang melingkar di bibir waktu terasa pahit di lidah, tapi tak juga kaumuntahkan lewat angin semilir kukirim lagu rindu menembus langit biru.

Kini aku melangkah menujumu, ibu aku mengarah hanya pada puting susumu masih kuingat betapa jari jemarimu tak letih menyulam perih luka batinku.

Meski tertatih, kini jemari tanganku tak letih meniti tasbih menguntai jiwa putih mendekap jiwa perih. Ibu, sendirian aku berjalan memasuki gerbang istana-Nya, mengetuk pintu rindu ibu, senjakala berwarna jingga mengurai senyummu.

Puisi Rindu Sahabat

 

Rinduku Padamu Sahabatku

Rinduku…
Menggebu ketika kuingat namamu
Memuncak saat aku melihat wajahmu
Membakar jiwaku ketika mendengar semua nasihatmu

Entah…
Kemana lagi aku melangkah
Kearah mana aku mencarimu
Tanpamu, aku sendiri

Sejujurnya…
Aku tak mampu berjalan sendiri
Aku tak sanggup menahan kesepian ini
Aku merindukanmu sahabat sejatiku

Puisi Rindu Karya Arif

***

Teruntuk Sahabat

Layaknya lilin di tengah gulita
menyiramkan cahaya dalam kegelapan
Seperti mentari di pagi buta
menghantarkan sinar kehangatan, mengusir kebekuan
Bagaikan bintang yang mewarnai malam
yang tak membiarkan rembulan mengangkasa tanpa teman
membawa keceriaan dan kesetiaan

Bersamamu…
Melalui hari-hari yang penuh liku
Bergenggaman erat menepis gundah dan nestapa
Berbagi kisah…
Tentang cita-cita namun bukanlah angan belaka
Tentang cinta yang membuncah namun tertahan di dalam jiwa
Tentang harapan yang hendak digapai di masa datang
Tentang kegagalan yang hampir meremukkan keyakinan

Sahabat…
Kita bersama dalam suka maupun duka
Saling mengingatkan di tengah canda
Aku berharap dan berdoa…
Kita kan terus melangkah bersama
Menggapai ridho dan cinta-Nya
Meski jarak membentang di antara kita
Tak kubiarkan meluluhkan benang kasih yang telah tercipta

Sahabat…
Terima kasih untuk segalanya
Dan biarkanlah kisah kita terus terangkai
Kini, esok, hingga masa depan
Aku bangga dapati Dirimu seadanya
Kupikir, pantaslah dirimu kutemani
Aku bahagia, Sungguh ingin terurai Kata

Kaulah sahabatku…
Bila hari-harimu tertimpa Bahaya,
Kudoakan Kasih Bagimu
Bila hari-harimu dilanda duka,
Kudoakan Harapan Bagimu
Bila HAri-harimu Barlarut ceria,
Kudoakan Damai bagimu
Selama matahari masih terbit dan terbenam,
Selama panas dan hujan masih silih Berganti,
Selama bulan dan bintang dilangit masih bercahaya,

Akulah sahabatmu…
Biarpun kita tak mungkin bersama
Sendiri kan kurangkai karsa
Sendiri kan kususun cerita
Berjalan terus menggapai cita
Dalam satu asa dan doa
Bahagia menyertaimu selamanya.

Puisi Rindu Sahabat Oleh Distryadeanis

***

Rindu Sahabat

Di kala malam datang
Di saat itulah aku selalu merindukanmu
Kamu yang dulu selalu bersamaku
Kini kau telah jauh di negeri orang
Kita terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh.

Andai kau tau
Aku di sini selalu merindumu
Aku rindu pada sosok dirimu yang begitu ceria
Entah gimana keadaanmu sekarang.

  Puisi Cinta

Hanya potret gambarmu yang bisa menepis rindu ini
Kau adalah sahabat terbaikku
Jangan lupakan aku
Walau raga kita jauh, tetapi kita tetap satu tujuan.

Puisi Rindu Pada Sahabat Karangan Verrenika Asmarantaka

***

Untuk Sabahat Sejatiku

Zaman-berzaman telah berlalu…
Kisah sahabat ada selalu
Setia bersama kini dan deulu
Tetap seiring bila perlu

Sejati berkongsi suka dan duka
Tawa setia tangis diseka
Sakit dirasa bila terluka
Ria dirai tanda sama suka

Biarpun jauh hidup berpisah
Rindu ketemu seresah gelisah
Hanya doa terus dicurah
Tanda ikatan jujur dan pasrah

Duhai sahabat, teman sejati
Saya disini terus mengingati
Hajat berjumpa simpan di hati
Moga tiba jua saat dinanti.

Puisi Rindu Sahabat Oleh Gabriella Larasati

***

Puisi Rindu Kepada Mantan Pacar

 

Aku Ingat

Apakah kamu masih ingat ?
Kala itu,
Angin senja mengelus rambut indahmu,
Percikan cahaya jingga menabrak wajahmu,
Aku ingat.

Apakah kamu lupa ?
Percakapan terakhir kita di atas bukit itu,
Ketika aku mencurahkan seluruh harapanku,
Kamu membalasnya dengan berkacanya matamu,
Aku tidak lupa.

Apa kamu terkenang,
Gitar ini memainkan lagu kesukaanmu,
Kamu bersandar ke bahuku,
Syair-syair indah kututurkan kepadamu,
Aku terkenang.

Namun nyatanya,
Kamu tak ingat, kamu lupa, kamu tidak mengenangnya,
Setega itukah kamu menghapus semuanya ?
Sekeras itukah hatimu menerimanya ?
Seego itulah perasaanmu mencampakkannya ?
Ya. Memang benar adanya.

***

Melupakan Mantan Kekasih

Hanya ada sosokmu yang bersandar di tiang hati
Yang menguasai seluruh semesta pikirku
Selalu setia nyanyikan syair pilu.

Hingga detik ini,
Sosokmu belum terganti dalam jiwaku
Selalu namamu yang ku sebut dalam doaku
Berharap kau kan mendengarkan suara hati ini
Dalam pesan yang ku sampaikan lewat sebuah mimpi

Yah, hingga detik ini
Aku tak mampu melupakanmu
Saat bayang-bayang senyummu terus menghantui
Hingga membuatku tak sanggup berpaling ke lain hati

***

Tersimpan Dalam Jiwa

Namamu masih tersimpan di galaksi hati ini
Tersimpan di antara semesta jiwa
Kian melekat terpampang erat
Sepanjang jalan kenangan yang ku lalui
Kurasakan hadirmu masih menyertai

Jika kau mendengar suara lubuk hati yang terdalam
Sejujurnya ku akui
Aku masih menyimpan rasa
Meski kini kau telah berdua
Hati dan perasaan masih sama
Tak akan memudar terhapus masa
Walau kita tak lagi bersama

Selalu bayangmu tersimpan dalam jiwa
Terus bersemayam dan selalu ku jaga
Meski kini semua telah berbeda
Saat dimana kau telah pergi
Tak akan ku biarkan rasa ini mati
Biarkan terus bersandar di hati
Tak akan ku sesali

Walau kau hanya dapat ku miliki dalam mimpi
Biarpun aku akan selamanya tersesat dalam ilusi
Karna cinta tak selalu harus memiliki.

***

Aku Membutuhkanmu

Dulu, semua begitu indah,
Kita selalu berbagi masalah,
Menghadapi segala yang tidak mudah,
Tanpa ada kata menyerah.

Dulu, cinta bersemi diantara kita,
Saling bertitip harapan dan asa,
Hari-hari yang penuh pesona,
Hingga tak satupun yang terlupa.

Dulu, aku bukan siapa-siapa,
Hingga kau temukan aku di ruang hampa,
Kekosongan hati ini kau taburi bunga,
Aku bagimu adalah dunia.

Namun itu dulu,
Sebelum takdir berseru pilu,
Memisahkan dua hati yang lama bersatu,
Tak ada yang tersisa selain rasa pilu.

Senja di ufuk barat kian berpamitan,
Burung pulang ke sarang sembari berkicauan,
Aku duduk disini, mengemaskan semua kenangan,
Masih sama dan masih berharap kau datang,
Hingga malam tiba, semua hanya khayalan.

Nyatanya, Aku membutuhkanmu,
Aku mengharapkanmu,
Aku selalu menunggu kedatanganmu,
Hingga pagi tiba, tetaplah kebodohan yang ada disampingku.

Sekali lagi, aku membutuhkanmu,
Menemaniku melewati kerasnya hidup seperti dulu,
Sekarang semuanya menjadi sembilu,
Kucoba memulai hidup yang baru.

Selamat tinggal, kasih,
Aku akan selalu mencintaimu.

***

Jangan Lupakan Aku

Semua berawal dari ketidaksengajaan,
Kau dan aku saking bertatapan,
Pertigaan jalan itu menjadi saksi bisu,
Pertemuan dua insan yang menimbulkan rindu.

Rasa cinta dan butuh perlahan tumbuh,
Hati menuntun menuju ke arah dirimu,
Disini kutemukan apa yang kutunggu,
Bahwa memang kaulah pujaan hatiku.

Tapi, Benar kata pujangga,
Tanpa ada angin dan hujan,
Bisa karam jua di lautan tenang,
Takdir antara kau dan aku tidaklah kesampaian.

Meskipun saat ini kau tak lagi bersamaku,
Akupun telah bersama yang baru,
Jangan pernah lupakan aku,
Kita akan bertemu di lain waktu,

Dengan status baru, perkenalan baru,
Anggap semuanya telah berlalu,
Jaga dirimu baik-baik, aku menyayangimu,
Meski sebagai sahabat baikku.

***

Posting Komentar untuk "54 Puisi Rindu Kekasih, Sahabat, Mantan, Pacar, Ayah, Ibu #5"