Kumpulan Puisi Guru Singkat, Guruku Tercinta: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa #1

Kumpulan Puisi Guru Singkat, Guruku Tercinta: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa #1

Source : titikdua.net


Guru dalam sandera

Guru…

sosok insan yang begitu mulia

ia rela menghabiskan waktunya demi anak bangsa

tak mengenal lelah,

hanya semangat, asa dan doa yang keluar dari bibirnya

demi mencerdaskan anak bangsa

kini ia telah disandera

disandera akan beribu administrasi

ia jarang bercengkerama dengan siswa-siswanya

ia hanyut bahkan tenggelam akan administrasi

demi kesejahteraan yang ingin diraihnya

kini ia telah disandera disandera akan berbagai aturan

hingga ia segan untuk mendidik anak bangsa

ia terbelenggu…

tak hanya itu, rayuan dilema merasuk dirinya

ketika nurani berbisik untuk mendidik dengan ikhlas

hati kecilnya pun berkata

“tak takutkah engkau dengan jeruji besi?”

oooh guru…

sampai kapankah engkau akan tetap disandera?


(Oleh: La Jumadin)



Sang pengabdi

Setiap pagi kau susuri jalan berdebu

Berpacu waktu demi waktu

Tak hirau deru kendaraan lengkingan knalpot

Tak hirau dingin memagut

Kala sang penguasa langit tuangkan cawannya

Wajah-wajah lugu haus kan ilmu

Menari-nari di pelupuk mata menunggu

Untaian kata demi kata terucap seribu makna

Untaian kata demi kata terucap penyejuk jiwa


Ruang persegi menjadi saksi bisu pengabdianmu

Menyaksikan tingkah polah sang penerus

Canda tawa penghangat suasana

Hening sepi berkutat dengan soal

Lengking suara kala adu argumen


Ruang persegi menjadi saksi bisu pengabdianmu

Entah berapa tinta tergores di papan putih

Entah berapa lisan terucap sarat makna

Entah berapa lembaran tumpahan ilmu terkoreksi

Entah berapa ajaran budi kau tanamkan


Waktu demi waktu dijalani hanya demi mengabdi

Berserah diri mengharap kasih Ilahi

Ilmu kau beri harap kan berarti

Satu persatu sang penerus silih berganti

Tumbuh menjadi tunas-tunas negeri

Kau tetap di sini setia mengabdi

Sampai masa kan berakhir nanti.


(Oleh: Zaniza)



Guruku

Engkau selalu sabar dalam menghadapi ku ..

Engkau selalu tabah memberikan ilmu ..


Oh guru ku ..

Engkau selalu sayang kepada ku

Meski aku membuatmu marah ..

 

Oh guru ku ..

Engkau memilih ku atau membimbing ku dijalan yang lurus ..

Engkau membuat ku sukses hingga saat ini.


(Oleh: Ali)



Guru

Guru ku ..

Kaulah pahlawan tanpa tanda jasa

Yang tidak lelah mengajari ku ..

Merelakan waktu istirahat nya

Hanya untuk mengajari ku ..


Oh guru ku ..

Engkaulah pahlawan ku ..

Aku tidak bisa seperti ini tanpa mu ..

 

Guru ku ..

Terima kasih atas jasa-jasa

Yang engkau berikan selama ini ..

Oh wahai guru ku ..



Guruku

Kau adalah sumber ilmu ku ..

Kaulah pembimbingku ..

Kaulah yang mendidikku

Dengan sabar dan tulus ..


Guruku ..

Sungguh besar jasamu ..

Kau yang tak pernah bosan

Dalam mengajar dan membimbingku ..

Engkau pahlawan tanpa tanda jasa ..



 

Guruku ..

Terima kasih ..

Atas segala jasa-jasa

Dan engkau pahlawanku ..


(Oleh: Amelia Prishanty)


Guruku

Setiap hari kau bagi ilmumu

Dengan keihlasan dan kesabaran

Setiap hari kau bimbing aku

Dengan nasehatmu yang penuh makna


Guru ku

Tak pernah lelah kau ajar aku

Selalu semangat setiap tugas mu



 

Guruku terimakasih

Atas semua pengorbananmu untukku

Maafkan salahku jika kau pernah terluka dengan kataku

Guruku… kau tak kan pernah terlupakan dalam hidupku.


(Oleh: Nurwawan)



Sang guru

Tentang kegelapan…

Tentang buta pada zaman dahulu kala.…

Tentang kebodohan yang merajalela….

Dan tentang sosok penumpas itu semua….

Ialah sang guru….

Sosok yang ikhlas berbagi ilmu….


1, 2, 3 ,4 dan seterusnya….

Harapnya tetap tak lekang dimakan usia….

Tetap tak basi dari sebuah tradisi….

Dia tetap mulia…

Dengan segala wibawanya….



 

Masa depan?

Jangan kau tanyakan….

Aku dan kamulah sang harapan…

Menjadi lebih hebat dari apa yang ia ajarkan….

Maka genggamlah apa yang ia percayakan…


(Oleh: Fitriana Munawaroh)



Pahlawan yang terlupakan

Cermatilah sajak sederhana ini, kawan

Sajak yang terkisah dari sosok sederhana pula

Sosok yang terkadang terlupakan

Sosok yang sering tak dianggap


Ialah pahlawan yang tak ingin disebut pahlawan

Terka-lah kiranya siapa pahlawan ini

Ingatlah lagi kiranya apa jasanya

Ia tak paham genggam senjata api Ia tak bertarung di medan perang


Ucap, sabar dan kata hati menjadi senjatanya

Keberhasilanmu kawan, itulah jasanya

Cerdasmu dan cerdasku itu pula jasanya

Bukan ia yang diharap menang

Namun suksesmu dan suksesmulah menangnya


Dapatkah kiranya jawab siapa pahlawan ini

Karenanyalah kudapat tulis sajak ini

Karenanyalah kau dapat baca sajak ini

Juluknya ialah pahlawan tanpa tanda jasa


Mungkin telah teringat olehmu kawan

Mungkin telah kau terka jawabnya

Ialah pahlawan dan orang tua kedua

Ialah guru, sang pahlawan yang terlupakan.


(Oleh: Ahmad Muslim Mabrur Umar)



Jangan ajari aku korupsi, guruku

Kureguk ilmumu di saat aku dahaga akan ilmu

Kurasakan hangat kasih sayangmu kala engkau tebarkan teladan buat anakmu

Senyum sapa salammu setia menyambut kedatanganku

Tanpa kenal lelah engkau tebarkan kebajikanmu


Aku mungkin bukan anak yang pintar

Aku ingin meraup ilmu yang engkau ajar

Ilmumu aku goreskan dengan ujung pena

Di atas buku kusimpan jejak tulisanmu penuh rasa

Kuhayati tutur katamu dengan sepenuh jiwa


Aku ke sekolah bukan ingin mengumpulkan pundi-pundi angka

Aku mungkin bukan anak yang layak menyandang juara

Aku hanyalah anak negeri yang ingin melukis masa depan dengan penuh asa

Aku ingin membekali diri dengan ilmu yang kau semaikan sepanjang masa


Aku ingin guruku memberi angka apa adanya

Bukan angka basa-basi biar aku terlihat anak digdaya

Menipu diriku… orang tua… dan seluruh bangsa

Meski aku tahu guruku takut dikatakan gagal mendidik anak bangsa

Terpaksa memberi angka yang cetar membahana

Di bawah ancaman tunjangan takkan cair kalau anak diberi angka apa adanya.


Guruku… jangan ajari aku korupsi

Beri kami angka sesuai bukti yang engkau miliki

Itulah wajah kami yang masih harus belajar lebih keras lagi

Agar negeri ini kelak melahirkan generasi emas yang hakiki

Mampu berdikari taklukkan dunia yang kian berkompetisi

Bukan emas palsu yang menipu diri sendiri


Guruku… Ajarkan kami sepenuh hati dengan kejujuran dan hati.


(Oleh: Abdul Hakim)



Guru

Guru,

kau laksana bunga berembun sejuk

bagaikan bunga bermekar indah

bagaikan langit berawan senja


Guru,

jasamu sungguh tak kulupa

jasamu tak terhingga

mengajar tanpa pamrih


Guru,

apa yang harus ku balas dari kebaikanmu

guru ibu di sekolah

melaksanakan terbaik demi muridmu ini


Engkaulah ibu kedua kami

kau habiskan setengah hari

hanya untuk mendidik kami


Guru,

kuucapkan terimakasih padamu.



Guruku pelitaku

Ketika saya t’lah lelah

Mengikuti langkah nasib

Yang selalu berjalan

Tanpa arah tujuan


Ketika saya tak tahu

Langkah apa yang harus kuambil

Agar saya sanggup berguna

Bagi Nusa dan Bangsa


Engkau tiba untukku

Untuk menunjukkan semua ilmu

Untuk mengajarkanku

Apa yang tak kuketahui


Guruku,

Engkaulah pelitaku

Di kala saya dikelilingi kebodohan

Juga ketidaktahuan



Guru

Tak kenal lelah kau bekerja

Di kala hatiku mulai lelah

Kau tetap menguatkan kami

Memberikan bekal untuk

Masa depan kami kelak


Wahai guruku

Engkaulah cahaya pelita

Penerang di dalam kegelapan

Kaulah jagoan tanpa tanda jasa

Yang tak mengharapkan balas jasa


Kau yang mengajariku semua

Kesederhanaan, kesopanan, serta tanggung jawab

Berkat usahamu mendidikku

Aku sanggup mengetahui

Apa yang sebelumnya tak kuketahui


Terima kasih guruku

Atas semua usahamu

Tak akan kulupakan besar jasamu

Guruku cahaya pelita

Kau yaitu pahlawanku



Guruku

Guru,

kaulah pendidikku

kaulah pengajarku

kaulah pembimbingku

serta orang tuaku di sekolah


Kau yang selalu mengajarkan kami akan ilmu

menulis, membaca, bermain, serta berhitung

kau tidak pernah lelah

kau tidak pernah mengeluh

tetapi kau selalu mengajarkan kami dengan kesabaran


Guru,

kaulah jagoan tanpa tanda jasa

kaulah pelita penerang dalam gulita

jasamu tiada tara

mengajar sampai kami kelak berkhasiat bagi masa depan kami


Guru,

terimakasih atas segala jasamu

tanpamu kami tidak tau akan ilmu

kami tidak tau menulis, berhitung, dan membaca

terima kasih guru guruku.


(Sumber: katacintame)