Puisi Buat Sahabat Tersayang

Puisi Buat Sahabat Tersayang

Source : titikdua.net

Pernah tidak, kamu mendapati dirimu bahagia terus tidak tahu harus menceritakan kepada siapa bahagiamu itu? Lantas, kemudian ada sosok yang rela menjadi pendengarmu dengan setia. Hingga kamu bosan bercerita dengannya.

Percayalah, tidak mudah menjadi seorang pendengar! Tapi tidak dengan seorang sahabat. Bacalah baik-baik puisi tentang sahabat berikut ini.

Puisi buat sahabat tersayang yang selalu mendengarkan cerita-cerita dan keluh kesahmu.

Ketika Sahabat Menjadi Cinta

Kebahagiaan sebuah pertemanan kini
telah berubah menjadi keindahan sebuah kisah cinta.
yang dulunya bertengkar sekarang menjadi damai akan hadirnya cinta
dan pernah ada yang menyangka bahwa
Sebuah pertemanan bisa menjadi sebuah percintaan.

Dan mungkin semua orang tau,
Bahwa cinta itu berawal dari sebuah pertemanan.

Keindahan sebuah persahabatan lebih indah jika
ditambah dengan sebuah kisah cinta antara dua makhluk
yang saling mengasihi.

(By: Nurul Laili)


Persahabatan

Sahabat bagaikan tempatku berteduh.
bila diriku terkena air mata dalam kesedihanku,
di sanalah diriku bisa berbagi dalam hidupku, yang tak pernah aku dapatkan di tempat lain…

Hanya sahabatlah yang mampu mengerti dan pahami,
apa yang sedang aku alami saat ini.

Tanpa sahabat
bagai jiwa yang terlepas dari ragaku
membuat ragaku tak mampu bergerak dalam setiap langkahku
persahabatan ini kan abadi
meski di dunia ini tak kan ada yang abadi.

(By: Amal)


Menangislah Sobat

Tak bisa ungkap dengan kata apa pun
Ini memang sangat membosankan
Ini begitu melelahkan
Bahkan, ini sangat menjengkelkan
Tubuh seakan beku dalam bongkahan es
Membeku tidak tahu kapan akan mencair

Yaa… itu benar sobat
Itu semua seperti sorot lampu panggung tanpa penonton
Menerangi tubuh di dalam kegelapan
Terdiam bisu tanpa senyum dan air mata
Ini sangat menyedihkan..
Namun.. ingatlah sobat..
Kau tidak sendiri
Kau tidak berdiri sendiri di kegelapan itu

Teteskanlah air matamu jika hatimu merasa terisak
Berteriaklah sepuasmu jika hatimu memanas
Karena itu lebih baik kulihat
Dari pada kau terdiam kaku di bawah sorot lampu itu
Bagai seorang tokoh tanpa dialog.

(By: Maulida)