Puisi Kemerdekaan: Di bawah Kibaran Merah Putih

Puisi Kemerdekaan: Di bawah Kibaran Merah Putih

Source : unida.gontor.ac.id


Puisi Kemerdekaan: Di bawah Kibaran Merah Putih

Aku tersimpuh

di bawah kibaran merah putih

bayangnya berdansa dengan pasir yang kupijak

melekuk, meliuk, menggelora

.

Aku tersimpuh

di bawah naungan merah putih

yang enggan turun, enggan layu

setelah lama badai menghujamnya

.

Mencari pijakan, aku harus bangkit

menepis debu yang menggelayutiku

menebalkan lagi tapak kakiku

ini waktuku berdiri!

.

Tak lagi aku lengah, takkan

ini tanah bukan tanah tanpa darah

ia terhampar bukan tanpa tangis

terserak cecer tiap partikel mesiu di sana

.

Jika pada patahan waktu yang lalu

aku bersembunyi, berkarung

pada lipatan detik ini, aku bukanlah kemarin

aku adalah detik ini, aku akan menjadi esok

.

Aku terhuyung

memegang erat tiang merah putih

aku memanjat asa, memupuk tekad

Indonesia, pegang genggam beraniku!

.

Genggam… genggam erat

akan kusongsong duri, kutapak tebing

perjuangan ini belum pudar

aku akan mengawalmu, merah putihku!



Puisi Kemerdekaan: Kuukir namamu, Pahlawan

Seperti awan merajut hujan

kusulam namamu di langitku

langit yang Allah bentangkan melalui perihmu

oksigen segar kemerdekaan

yang mengalir dari sesak dadamu

kuhirup seperti aliran sungai surgawi

.

Seperti akar merambat tanah

kuukir namamu, Pahlawan

dalam-dalam

bukan untuk kukenang

bukan untuk menghiasi bilikku

namun, petuah perjuangan bagiku

.

Apa yang menggerakkan beranimu?

Apa yang mendobrak takutmu?

Di mana gentar itu?

Tentu saja… tentu saja… ia sirna

pada detik cintamu pada Indonesia terusik

pada detik itu… kekuatan yang tak tampak menguatkanmu

.

Aku akan berdiam sejenak

di tendamu malam ini

beberapa saat saja

hingga kulitku merasakan dinginmu

dan perutku merasakan laparmu

mataku merasakan perihmu

.

lalu aku akan mengambil

sisa-sisa aura kosmosmu yang menjejak

kuserap dalam pori-poriku

kuhirup sekuat-kuatnya

hingga mengalir ke dalam nadiku

hingga kuharap kau tahu, kini aku yang jaga merdeka itu

.

Kuukir namamu, Pahlawan

pada gunung, pada laut

pada udara, pada puisi burung

di tiap huruf namamu, Pahlawan

ada suku kata merdeka

ada doa… untukmu


 

Puisi Kemerdekaan: Bukan Gugurmu yang Kutangisi

Saat kau pergi

pagi itu

dengan senjata seadanya di tanganmu

dan ikat merah putih di kepalamu

bukan pergimu yang kutangisi

bukan, sayang

bukan itu

.

Aku melihat langkahmu

lurus, tegap

tak pernah kau seyakin itu

tak pernah

aah… aku nyeri membayangkannya

tak pernah aku melihatmu

tersenyum semisterius itu

.

dzikir, sujud, dan segala kata-kata langit

kuucapkan

deras di mulut dan benakku

seolah aku melihatnya

menjadi butiran atom cahaya

yang terbang mengelilingimu

menghangatkanmu

.

siluetmu mulai hilang

jauh di ujung sana

kilas cahaya merah putih dari kepalamu

menjadi nur terakhir yang kulihat

pekik merdekamu

masih terbisik di telingaku

lembut, namun penuh api

.

Saat kau pergi

pagi itu

dan perang melawan penjajah

mengantarmu menghadap Sang Pencipta

bukan gugurmu yang kutangisi

bukan, sayang

bukan itu

.

Karena kutahu

gugurnya pahlawan bukanlah mati

itu adalah kehidupan sebenarnya bagimu

karena kutahu

takkan pernah sia-sia juangmu

untuk bangsa Indonesia yang kau cintai ini

dan kutahu kau menikmati cintamu itu

.

Bukan gugurmu yang kutangisi

Bukan, sayang

ini bukan tangis kesedihan

ini adalah tangis haru akan kemenanganmu

Ah, baiklah… aku berbohong jika aku mengatakan

bahwa aku tak sedikitpun perih dengan hilang rautmu

Namun, percayalah, bagiku, kau tak pernah gugur