Sajak-sajak Terbaru dan Terbaik Nanang Suryadi #4

Sajak-sajak Terbaru dan Terbaik Nanang Suryadi #4

Source : nanangsuryadi.blogspot.com


MENAPAK KE ARAH SENJA


hidup yang menapak ke arah senja, hidup yang menghabiskan seluruh airmata, sampaikah rindu pada cintaku?

kabarkan pada daun-daun yang luruh, cinta paling mendalam tanah yang basah, selepas hujan, angin telah mempertemukan

kabarkan pada burung-burung yang akan pulang saat senja, sarang yang hangat dan cericit rindu penuh gigil memanggil

aku telah melewati segala senja, senja yang selalu meminta sajak cinta, jemariku menari, mengabadi kata

mungkin engkau sempat mencatat, dari butir-butir hujan, ada yang tak sempat diungkap rahasia rindumu padaku

mungkinkah hujan adalah rindumu padaku, bisik tanah basah kepada awan yang menghitam, di langit yang sedang bersedu sedan

di lelambai pohonan adakah isyarat rindumu, sebagai gumam, sebagai bisik, angin gemerisik

Malang, 2011



Mengalirlah Mengalir


mengalirlah mengalir puisi serupa hidup yang mengalir serupa sajak yang berlagu merdu, cinta dan rindu, karena…

manusia punya kehendak, memilih langkah, tuhan punya kehendak, menetapkan takdir. aku ingin mengalir, bersama kehidupan

mengalir bersama waktu, mengalir di dalam cinta, mengalir menuju CINTA maha cinta

aku mengalir dalam sungai cahaya, mengalir menuju Cahaya maha cahaya

cintaku cahaya rinduku cahaya mengalir bersama waktu di dalam waktu menuju waktu yang tiada, Cahaya yang abadi

Malang, 13 Maret 2011



mengingat doamu yang penuh cinta


:kunthi hastorini

saat diburu kerja, aku hanya ingin berkabar, satu baris puisi. agar kau ingat, ada yang sempat mengingat, doamu yang penuh cinta

jam terus berdetak. mungkin berdetak juga di dalam dadamu. tiktak waktu. berdetak detik menitik

katakan pada waktu, bahwa aku tetap mencintaimu, sepanjang waktu

Malang, 2011

Di Setiap Senja Aku Ingin Menulis Puisi


aku ingin menyapamu, di setiap senja. sebelum senja melepas cahaya ke balik kelam. sebelum aku menjadi silam.

jika aku berubah gema, itu tetaplah suaramu. suara yang menggaung. dari kedalaman jiwa. jiwa yang perih. cinta dan rindu yang pedih.

puisi, serupa bayang-bayang yang menjulur. di redup cahaya, aku menggambar bayang mimpiku sendiri.

apa yang harus dieja dari bayang-bayang? pernah kugambar kelelawar di tembok. bayang di bawah cahaya lampu yang menempel di tembok.

kelelawar yang muncul dari goa-goa gelap. memasuki angan kanakku. kanak yang merupa bayang di tembok. redup cahaya lampu teplok

puisi mengepak sayap bayang-bayang. dari goa yang gelap dan pengap. menjerit dalam kepalaku.

aku ingin menyapamu, dengan seribu bayang-bayang, yang kugambar dengan sedikit cahaya. senja ini.

seekor kelelawar, membayang dalam puisi, menjerit dalam kepalaku. menembus kelam. menembus malam.

Malang, 8 Maret 2011



Penyair: Pemungut Cahaya Senja


aku memasuki malam. senja yang kehilangan cahaya. biarkan aku masuk, tanpa mengetuk. aku ucapkan salam.

para pejalan malam. para penyair yang merindukan malam. para pecinta yang memungut cahaya senja. dari matahari. menyalakan api sunyi di malam hari.

aku memasuki malam. dengan api dalam kepala. kan kubakar malam dengan segala sepi. dengan segala mimpi. sunyiku. sendiri.

malam adalah kerinduan yang tak kunjung padam. menyalakan sunyi menjadi api. menerang di dalam mata hati

Malang, 8 Maret 2011



Sehalaman Buku, Sehalaman Rumahmu


bagi: yayan triyansyah

sehalaman buku memuat halaman rumahmu. halaman yang kau cintai. halaman yang menyimpan ari-ari

sehalaman kenangan yang tersimpan di bukumu. menampung airmata. rindu yang tak terkatakan

di halaman itu kau tatapi serakan daun yang berguguran. hidup yang tak bisa diterjemah. kapan jatuh. kapan tumbuh

sehalaman buku sehalaman rumahmu sehalaman kenangan kanak yang kau ingat. ayah bunda menanam sesuatu dalam dirimu. Kenangan itu.

Malang, 8 Maret 2011



telah kualamatkan airmata ke gedungmu, tapi engkau tak mampu membacanya


tak perlu kau sewa mata mata, kami selalu pamerkan luka, di gedung itu tuan puan bertahta

telah kuingatkan janji janjimu pada kami, namun gedung itu angkuh meludahi

telah kutitipkan derita di gedungmu, tapi kau selalu lupa, hanya menyapa setiap 5 tahun sekali saja

telah kualamatkan airmata ke gedungmu, tapi engkau tak mampu membacanya

kau ingin membangun gedung baru lagi? lalu untuk siapa! tentu bukan untuk airmata kami

percuma!

Malang, 30 Maret 2011



karena engkau adalah maha cinta, aku lebur dalam cahaya cintamu


karena engkau adalah maha cinta, aku lebur dalam cahaya cintamu

telah kau tanamkan di dadaku cinta, yang selalu memanggilimu penuh rindu, tapi aku harus menunggu, perjumpaan itu

beri aku cinta! mereka menyerumu, dengan dada terluka, dengan airmata, dengan asap berbau mesiu

sungguh teramat lamat apa yang kuingat, telah dialamat segala gundahku, sampaikah padamu, muara akhir cintaku

Malang, 30 Maret 2011



Kanak-Kanak Memanggilmu Ibu


:kunthi hastorini

kanak-kanak memanggilmu ibu, sebagai cinta yang akan lekat sepanjang waktu

kanak-kanak menyusun ingatan, pada tatap matamu, yang mungkin marah, tapi yang teringat adalah cintamu, selalu

kanak-kanak merindu, hangat dada dan puting susu, ibu kau rasa geletar kenang itu?

ciumlah penuh kasih sayang, karena airmatamu akan menyegarkan ingatan kanak pada kehidupan, yang penuh cinta

4 April 2011



seranum senyum kanak


: atta & arya

aku menyapamu di senja yang ranum, seranum senyum kanak, yang menyapa usiaku yang sudah bukan kanak lagi

di matamu kanak, aku lihat diriku yang bengal dan nakal, kejenakaan hidup, meluruh lelah sehabis bekerja

di matamu kanak, aku mengaca membaca cinta yang terpantul dari kedalaman jiwa, aku ingin menciummu dengan seluruh cintaku

Malang, 29 Maret 2011



aku percaya cinta milik kita, sesungguhnya


:kunthi hastorini

ada yang ingin mencuri kenangan, dari kata yang teralamat kepadamu. pencuri kata

tapi tak ada yang khawatir dengan kenangan yang tercuri. karena kata mengapi di kepala. mengapi api

serupa cinta yang terus mengapi. dalam kepala. dalam dada. dalam mata. menerangi: kata

siapa yang ingin mencuri kata? menanggung derita airmata, luka cinta tak bernama.

“jangan kau tulis terus cinta, cinta, cinta.” katamu suatu ketika. cinta tak kan membuatku lemah. sungguh.

aku percaya kepada cinta. aku percaya cinta dapat dipercaya. aku percaya cinta milik kita, sesungguhnya.

cinta yang menguatkan. cinta yang membuatku terus tetap bertahan untuk hidup. cinta, ya cinta

“tapi aku cemburu,” katamu memburu. Cintaku cinta umat manusia. Cintaku membawa kabar Maha Cinta. Tak perlu kau cemburu

ada yang ingin mencuri kenangan itu. Kata. tapi tak bisa, karena airmata kita mengalir dari Cinta yang tak terpeta

Malang, 8 Maret 2011



KEPADA TUHANKU


Engkaukah yang menyapa di balik jendela pesawat, di putih awan, kabut dan deru angin…

pada jarak dan perhitungan waktu, sedekat nadi sekejap cuma, tapi mengapa terasa jauh dan berlipat abad, lebur dalam cintamu

yang merindu adalah aku, yang mencinta adalah aku, aku tahu kau maha pencemburu

mendedah kata mendedah rindu tak bertepi, aku lirih menyapamu, karena pekik habiskan suara

jika aku berserah, sungguh kau muara segala lelah

Malang, 201



Kepada Tuhanku (2)


ada yang mengetuk. waktu. ada. kaukah yang menjenguk. ke dalam lubuk. hati yang terdalam. rindu yang mendalam

berayunlah. berayun. wajahmu yang kian samar. kian pudar. rentangan jarak. waktu. kakiku kian gemetar memburu cintamu

chairil tak sanggup mengingatmu seluruh, hamzah tak sanggup menanggung rindu dendam, tardji mengiau memanggilimu, ah siapa lagi kan terbakar rinducintamu?

aku terkapar, terbakar nyala rindu, biarpun engkau kian samar, dan aku tak selalu berkabar, berilah sabar bagi segala debar

Malang, 4 Maret 2011



Dalam Puisi


adalah matahari yang menyalakan api di dalam kepalaku hingga kepalaku memanas dengan segala cinta segala rindu yang memburu

adalah hujan yang menderas di dalam kepalaku hingga mimpi-mimpiku hanyut mengalir ke muara rindu cintaku

adalah lampu-lampu jalanan yang menyihir pejalan kaki dengan senyum yang meredup bikin pejalan ingin pulang ke pelukmu

adalah jam jam yang selalu sibuk berdetak-detak mengingatkan akan waktu kapan kita harus kembali

adalah pohon pohon yang tabah menunggu angin badai tiba, hingga cinta kan sampai dikabarkan, hingga rindu tiba merebahrubuhkan

Malang, 29 Maret 2011

Ingin Kubuat Sajak. Eh, Sajak malah melawak. Bacalah!


kuburkan kabar kaburkan kabar: bakar! bakar! berarak arak kabar akar. berkibar kibar kabar bara: bakar! bakar! kabarkan kubur. bubar.

yang berderak adalah sumpah. yang berserak adalah sampah. teriaklah hingga serak. geraklah. gerak. gertak gemeretak. biar retak biar kerak.

adakah geletar membuatmu gemetar gelepar, sebagai gelegar kau dengar penuh hingar bingar, menebartebar kabar mendebardebar

beras tumpah dari tampah, sampah meruah dari sumpah, meremah ramah jadi marah, meremas gemas jadi cemas, kata o berubah kota a!

Malang, 12 April 2011



Bayang-bayang itu Kau Sebut: Wayang


mari kita pilih warnawarna memulas sunyi yang kita miliki sendiri. karena sunyi, warna menyendiri di dalam diri

kita telah menciptakan dongeng, sebagai sunyi tak terbagi, di dalam pikiran sendiri, asyik sendiri

biarlah kenang kehidupan melintasi ruang waktu, malam yang memberat, di pelupuk mata bayang mengeras deras

ada yang menyelinap, di batas malam, tembang dupa kembang rupa, gending mengalun, bayang menari

di balik bayang bayang kuterka makna. bayang menari. aku menari. angan menari. o tarian!

tembang tembang menyihirku kembali menjadi kenangan. kenangan yang menyilam silam. o kenang

harum dupa. harum bunga. upacara. tembang menggema. gending mengiring. o bayang bayang. wayang

Malang 9-10 April 2011



Jejak Isyarat


: untuk commaditya

jejak yang kau tinggal, berikan isyarat kata, segala yang badai, kan segera reda

pada denting gitar, pada serak suara, ada kau yang memberi tanda, jejak yang tertinggal di rindunya yang kekal

mungkin ada yang tak ingin menafsir, jejak rindumu yang menelusur jarak, cemburu tak bermata

tapi mungkin kau harus tahu bagaimana perempuan itu menatap selalu, mencari jejakmu di lintasan waktu

Malang, 10 April 2011



Di Sebuah Senja, ada sebuah Cerita: Manusia


serupa maut, katamu. mengendapendap, menyapamu. di cermin itu tuan, wajah siapa. bersolek di saat senja.

siapkan pedang, kita akan berkelahi dengan bayang, katamu suatu waktu. di awal  malam yang hanya ditemani bulan separuh. dan rinai gerimis.

dadu yang menggelinding di pesta itu, menjelma darah. mungkin engkau menyebutnya  kurusetra. atau palagan yang entah disebut apa. tapi siapa yang menyimpan dendam, kau tahu. kau tahu. masa lalu.

pada gerimis ada yang menatap hari hari bergegas, mungkin dicatat butir butir airmata, menderas: “ catatlah dengan seksama, segala mimpi yang tak kembali, catatlah dengan rapi, segala ingin yang tak kembali.”

telah disimpan dalam usia, riwayat detik detik bahagia, mengapa selalu yang dikenang hanya luka duka

sebagai kau telah tandai senja dengan airmata, sebagai kau tanda duka bahagia, cinta yang meluka

manusia. manusia. dimana akhirnya.

Malang, 10-11 April 2011



Gelombang Pasang, Gelombang Surut, Penyair!


gelombang hidup, gelombang pasang surut, di hidup yang kau pilih atau dipilihkan takdir, gelombang waktu

kau menantang langit, kau menantang gelombang, kau menantang badai, tapi kau takluk pada sepi. sunyi menghunjam diri

pada sunyi kau mencatat perasaan sia sia dan putus asa, wajahmu yang menyeringai kuyu terluka. gelombang hidup, gelombang waktu, memburu

kau ingin rayakan segala luka dan nyeri, menatahkan di segala usia sia sia, segala yang nisbi, segala yang tak nyata, merajam diri

diri!

Malang, 10 April 2011



Saat Ingin Menulis Syair yang Ringan

 aku ingin menulis syair, sesuatu yang ringan, seperti balon yang berlepasan dari jemari,

balon yang berlepasan dari jemari kanak, yang berteriak: balon mau kemana, balon mau kemana

pernahkah engkau memegang erat erat seikat balon, seperti kau dekap cintamu demikian erat?

seringan balon, demikian juga mungkin harap, kanak yang khawatir atau tertawa melagukan balonku ada lima

mungkin ada juga yang khawatir, akan meletus balon, akan meledak harap cintanya, dekaplah erat

inilah syair malamku, mengingat kenangan kanak dulu, yang memasuki mimpi malamku

Malang, 10 April 2011



Di Saat Hujan Gemericik, Tiba-tiba Aku Teringat Lumpur itu

selepas hujan seharian, masihkah tersisa jejak kaki, yang menyisakan lumpur di ruang tamu

hujan seharian, jejak siapa yang menjenguk kubangan lumpur menggunung, menunggu pecah bendungnya

jika kau punya belas kasih, jenguklah wajah khawatir, hujan tak habis berharihari, lumpur berkunjung ke ruang tamumu

kaki siapa menjejakkan lumpur, mungkin jejak sajak cintaku, sidoarjo lapindo benih yang kau lupa, mengunjungimu malam ini

Malang, 10 April 2011



bahasamu demikian rapi tuan

bahasamu demikian rapi tuan, disetrika setiap pagi, apa kabar dunia? ah, demikian pintar tuan mematut diri

di depan kamera, tak perlu basa-basi, terjang sana terjang sini, tuan pintar sekali berdiskusi tentang negeri ini

“tidak semua janji perlu ditepati, apalagi jika akan mengurangi isi periuk nasi”. begitulah tuan punya isi hati

ini sajak tidak serius, jangan terlalu diambil hati, jika tuan suka ambil sajalah, jika tuan tak suka janganlah marah

demikanlah, tuan

Malang, 22 Maret 2011



Dari Lereng Panderman

hanya pemandangan indah semata, di kejauhan, gunung gunung anggun dan awan putih menyaput di atasnya, inikah negeri yang dicintai?

seikat edelweis basah oleh hujan, bunga abadi, kata penjual di lereng gunung itu. bunga abadi, cinta abadi

arjuna, bromo, kawi, panderman, semeru, memaku kenangan, negeri yang membuat para perantau selalu ingin pulang

buah buah yang ranum, bunga bunga yang merekah, memanggil hadirmu anak-anak yang hilang, di negeri yang ramah tapi sering menyimpan amarah

dengarlah para petani yang menyapa: “kami menanam padi, menanam sayur mayur, walau tak selalu mencukupi, tapi kami tahu saudara kami di kota membutuhkannya.”

di kotaku sawah sawah menyusut, berganti rumah rumah mewah, ladang ladang tersingkir, adakah yang mau berpikir?

ada yang berkata: “hidup sudah terlalu rumit, kami selalu menghibur diri sendiri, memandang langit selepas hujan, memandang bungabunga dan ilalang liar.”

kudengar juga suara: “pupuk & pestisida telah membuat hati remuk, masih kau ingatkah saat kau nikmati nasi yang empuk?”

benar, hidup sudah terlalu rumit, kami selalu menghibur diri sendiri, memandang jalanan selepas hujan, dalam deru kemacetan

Malang, 30 Maret 2011



PROSESI MENELPON DAN MENGIRIM SMS KEPADA MALNA

ada yang menelponmu. mungkin aku. mungkin bukan aku. handphone bersahutan dengan lagu-lagu. dan mailbox. suara yang tak asing. senja kuyup

dimana malna. kata smsku. smsku tak berjawab. tersesat di satelit mana. afrizal malna dimana kamu. dimana. jawab lagu-lagu: dimana?

aku ingin bertemu malna. membicarakan gelas kopi. pembesaran ruang. buku-buku yang bermetamorfosa. handphone yang senyap.

halo. nanang menelponmu. halo di mana malna? halo dimana? lagu-lagu menjawab: dimana. dimana. dimana. simpanlah suaramu di mailbox.

mungkin malna bersama malik. tapi malik juga dimana. dimana malik berada. dimana mana. di warung kopi yang mana. di kafe yang mana.

deni dimana malna? deni sedang kuliah. kuliah tentang senja. atau tentang hujan. mungkin juga puisi atau tatabahasa sikat gigi.

aku cari malna. biarlah telpon bernyanyi sendiri.

Malang, 6 April 2011



AKU INGIN MENULIS SAJAK YANG TENANG

aku ingin menulis sajak yang tenang, agar jiwaku tenang. aku ingin menulis semilir angin, senja yang nyaman, udara yang sejuk. aku ingin….

aku ingin menulis sajak yang tak berteriak. agar jiwaku tak selalu ingin berontak. aku ingin menulis sajak-sajak cinta yang tulus & bahagia

aku ingin menulis sajak yang sekedar bisik. bisik yang pelan sekali. agar kau tak terkaget-kaget oleh baris-baris yang garang. ah, aku ingin

aku ingin menulis sajak yang tenang, tentang semerbak bunga, warna-warna bunga, warna-warna pohonan, mungkin juga tentang warna langit

aku ingin menulis sajak yang tenang rindu yang tak terlalu menggebu, cinta yang bersahaja, senja yang redup dan murung, langit abu abu

aku ingin menulis sajak yang tenang, senja yang tenang, langit yang tenang, burung-burung yang tenang riang dan berbahagia, juga manusia

aku ingin menulis sajak yang tenang, tak gaduh, tak garang, tak berteriak. tenang setenang permukaan danau yang dihembus semilir angin senja

aku ingin menulis sajak yang tenang tentang gerimis yang turun dengan tenang di sore yang tenang dari langit yang tenang

aku ingin menulis sajak untuk diriku sendiri agar diriku sendiri merasa tenang dan senang dengan sajakku yang tenang

aku ingin menulis sajak yang tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenanglah tenang nanang

Malang, 23 Maret 2011



Percakapan Segitiga: Sajak, Puisi & Syair

di dalam sajak, engkau menyimpan jejak tangis, gerimis tak habis-habis

pada baris-baris sajak engkau dirikan kenang yang manis, mungkin juga tangis yang disimpan diam-diam, serupa jejak metafora

apa yang harus dikhawatirkan, dari diksi di dalam puisi, sajak meletak bentuk, menyusun pikiran dan geletar jiwa yang tersembunyi

bergeraklah bergerak, mengikuti irama, detak jantungmu yang merancak, sajak yang beriak, sajak yang mengalun, sajak yang berderak

di dalam sajak, ada yang berteriak, ada yang menyalak, ada yang terbelalak, ada yang tertembak, ada yang tergeletak

kita saling bertanya, siapa kamu, kata puisi kepada sajak, sajak bertanya yang sama kepada puisi. siapa kita sesungguhnya?

kita adalah anak-anak yang terluka, dan selalu saling bertukar nama, kata sajak kepada puisi, dirinya sendiri

kita juga menyimpan kerinduan, cinta, dan airmata, kata puisi kepada sajak yang tak pernah tergelak

mengapa para penulis puisi atau sajak itu disebut penyair? syair bertanya. entah kepada siapa. bukan pertanyaan pandir.

bukankah para penulis puisi lebih pantas disebut pemuisi, para penulis sajak sebagai penyajak. para penulis dirikulah penyair

tuliskan diriku penyair, jangan menulis puisi atau sajak, tulislah syair karena engkau penyair. tuliskan syair. tuliskan syair

mari kita berdenyut, kata cinta kepada puisi, sajak, dan syair. cinta pun berdenyut. memompa darah kata. berdenyut-denyut

sajak berdenyut, puisi berdenyut, syair berdenyut, mengiramakan cinta, hingga mabuk mereka, di dalam cinta yang fana

karena cinta, karena cinta, kita harus ada. sajak, puisi, syair berteriak bersama. ya, karena cinta, segala yang berbeda, harus tetap ada

Malang, 14 Maret 2011